Tiga Orang yang Ditangguhkan (perang Tabuk bagian ke 4) Perang Tabuk

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
 
Rasulullah n bersama pasukan muslimin mulai mendekati kota Madinah. Beberapa penduduk kota berlarian menyambut beliau, begitu pula wanita & anak-anak yang hendak menyambut beliau, suami & ayah-ayah mereka. Anak-anak itu dgn gembira mendendangkan nyanyian:
Telah muncul purnama kepada kami dari Tsaniyatil Wada’…
Kemudian Rasulullah n memasuki masjid & shalat dua rakaat. Demikianlah kebiasaan beliau setelah melakukan perjalanan jauh.
Setelah itu, mulailah berduyun-duyun orang-orang yang tertinggal menemui beliau mengajukan uzur tak ikut serta dlm Perang Tabuk. Sebagian dari mereka diterima oleh beliau & urusan batinnya diserahkan kepada Allah l.
Di antara sahabat, ada beberapa orang yang sengaja mengikat tubuh mereka di tiang-tiang masjid. Rasulullah n melihat mereka & bertanya, “Siapa yang mengikat dirinya di tiang masjid?”
Sahabat lain menjawab, “Itu Abu Lubabah & teman-temannya, karena mereka tak ikut berperang bersama Anda, wahai Rasulullah. Mereka ingin Anda sendiri yang melepaskan mereka.”
Rasulullah n berkata, “Demi Allah, aku tak akan melepaskan & tak pula menerima uzur mereka, sampai Allah l sendiri yang melepaskan mereka. Mereka tak suka ikut bersamaku & tak mau berperang bersama kaum muslimin.”
Ketika sampai perkataan Rasulullah n kepada sahabat-sahabat tersebut, mereka berkata, “Kami pun tak akan melepaskan diri kami hingga Allah l sendiri yang melepaskan kami.”
Kemudian turunlah firman Allah l:
“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dgn pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 102)
Setelah ayat ini turun, Nabi n pun menemui mereka, melepaskan tali yang membelit mereka & menerima uzur mereka. Tak lama kemudian, mereka datang menemui Rasulullah n sambil membawa harta mereka & berkata, “Wahai Rasulullah, inilah harta kami. Bersedekahlah dgn harta ini & mintakanlah ampunan utk kami.”
Beliau menjawab, “Saya tak diperintah mengambil harta kalian.” Lalu turun ayat:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dgn zakat itu kamu membersihkan & menyucikan mereka, serta berdoalah utk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (At-Taubah: 103)
Kemudian, datang pula tiga orang sahabat yang mulia: Ka’b bin Malik, Hilal bin Umayyah, & Murarah bin ar-Rabi’, g. Mereka tak ikut mengikat diri mereka bersama Abu Lubabah & teman-temannya. Mereka merasa tak punya alasan yang memberatkan hingga tertinggal dari Rasulullah n. Mereka hanya menyampaikan bahwa mereka tak ikut serta. Akhirnya, Rasulullah n menyerahkan urusan mereka kepada Allah l.
Kejadian ini bisa kita ketahui dari penuturan sahabat yang mulia, Ka’b bin Malik z, berikut ini.
“Saya tak pernah tertinggal dari Rasulullah n dlm peperangan yang beliau lakukan kecuali Perang Tabuk. Walaupun saya pernah tertinggal dari Perang Badr, tapi Rasulullah n tak mencela saya & siapa pun yang tertinggal, karena waktu itu kami mengira Rasulullah n keluar hanya utk menghadang kafilah dagang Quraisy, walaupun akhirnya Allah l mempertemukan beliau dgn musuh-musuhnya tanpa kesepakatan sebelumnya.
Sungguh, saya telah ikut bersama Rasulullah n pada malam ‘Aqabah ketika kami sangat yakin kepada Islam. Saya tak suka malam itu digantikan dgn peristiwa Badr, meskipun Badr lebih dikenang orang daripada malam itu.
Saya belum pernah merasa keadaan saya lebih kuat sama sekali & lebih mudah daripada keadaan saya ketika tertinggal dari beliau dlm perang (Tabuk) tersebut. Demi Allah, saya belum pernah mengumpulkan dua kendaraan sama sekali dlm sebuah peperangan kecuali Perang Tabuk. Biasanya, bila hendak berangkat berperang, Rasulullah n melakukan tauriyah (berbuat atau mengatakan sesuatu utk mengalihkan perhatian, red.) dgn hal-hal yang lain.
Setelah melakukan persiapan, walaupun serba minim, karena pada waktu itu adalah musim panas yang sangat buruk, kendaraan & perbekalan serba kurang, Rasulullah n berangkat juga. Beliau menampakkan & memerintahkan kaum muslimin agar mempersiapkan perlengkapan perang mereka. Beliau n menyampaikan terang-terangan ke mana arah yang beliau tuju & lawan yang akan dihadapi, sehingga banyak yang menyertai Rasulullah n. Akan tetapi, tak ada penulis yang mencatat—semacam sensus—jumlah mereka dgn pasti.
Kata Ka’b selanjutnya, “Ada yang ingin mengelak & mengira pasti akan dapat bersembunyi dari beliau selama tak turun wahyu Allah l tentang dia.”
Tak lama, ketika buah-buahan mulai masak, naungan mulai rimbun, Rasulullah n pun berangkat diikuti oleh kaum muslimin. Saya datang pagi-pagi utk bersiap-siap bersama mereka, lalu pulang tetapi tak melakukan apa-apa.
Saya berkata dlm hati, “Saya dapat segera menyiapkannya.”
Pagi harinya Rasulullah n & kaum muslimin sudah mulai bergerak. Tetapi, saya masih belum mempersiapkan diri sedikit pun. Saya berkata dlm hati, “Saya akan mempersiapkan diri sesudah satu atau dua hari ini lalu menyusul mereka.”
Saya pun datang pagi-pagi, lalu kembali lagi sesudah mereka berangkat. Saya pulang & belum juga berbuat apa-apa.
Saya datang & pergi lagi tanpa melakukan sesuatu. Hal ini berlangsung terus-menerus sampai pasukan semakin jauh dari kota. Saya mulai bertekad menyusul mereka.
Duhai, kiranya saya memang melakukannya, namun belum juga ditakdirkan utk saya. Suatu hari, saya keluar di antara orang banyak sesudah Rasulullah n & pasukan muslimin berangkat. Saya pun berkeliling. Sungguh menyedihkanku, ternyata saya tak melihat siapa-siapa kecuali orang-orang yang tertuduh munafik atau orang-orang lemah yang diberi uzur oleh Allah l.
Rasulullah n tak menyebut-nyebut nama saya sampai beliau tiba di Tabuk. Setelah berada di Tabuk, mulailah beliau bertanya ketika duduk-duduk di antara pasukan, “Apa yang dikerjakan Ka’b?”
Salah seorang dari Bani Salimah berkata, “Wahai Rasulullah, dia ditahan oleh dua burdahnya & melihat betapa bagusnya burdah itu.”
Mu’adz bin Jabal z menukas, “Alangkah buruknya ucapanmu. Demi Allah, wahai Rasulullah. Kami tak mengetahui tentang dia kecuali yang baik-baik saja.” Rasulullah n pun diam.
Kemudian, Ka’b bin Malik melanjutkan, “Ketika sampai berita bahwa Rasulullah n & kaum muslimin bersiap-siap utk kembali, muncullah keinginanku mencari-cari tipuan. Saya berkata dlm hati, “Dengan apa kira-kira saya dapat lolos dari kemarahan beliau nanti?” Saya pun meminta saran dari seluruh keluarga saya.
Tatkala diberitakan bahwa Rasulullah n sudah mulai kembali, hilanglah kebatilan (kebohongan). Saya pun tahu, tak akan mungkin lolos dgn sedikit kebohongan saja dari beliau selamanya. Akhirnya, saya mengumpulkan sikap jujur utk beliau.
Esok harinya, Rasulullah n & pasukan pun sampai di Madinah. Penduduk berduyun-duyun menyambut beliau. Biasanya, kalau baru tiba dari safar beliau selalu singgah lebih dahulu di masjid & shalat dua rakaat, kemudian duduk menghadapi orang banyak yang datang mengajukan uzur & meminta maaf atas ketertinggalan mereka. Setelah itu, datanglah orang-orang yang tertinggal itu & mulailah mereka mengajukan alasan serta bersumpah. Jumlah mereka sekitar delapan puluh orang. Rasulullah n menerima alasan mereka, membai’at, & memintakan ampunan buat mereka serta menyerahkan rahasia mereka kepada Allah l.
Saya datang menemui beliau & mengucapkan salam. Beliau tersenyum masam kepada saya seraya berkata, “Kemarilah!” Saya pun melangkah sampai duduk di hadapan beliau, lalu beliau berkata, “Mengapa engkau tertinggal? Bukankah engkau sudah membeli kendaraan?”
Kata saya, “Betul. Sungguh, demi Allah, wahai Rasulullah. Seandainya saya duduk dgn orang lain di dunia ini, pastilah Anda melihat saya akan lolos dari kemarahannya dgn satu alasan. Sungguh, demi Allah, saya diberi kemampuan berdebat. Tetapi demi Allah, seandainya saya berbicara kepada Anda hari ini dgn satu kebohongan, lalu Anda meridhai saya, pastilah Allah l akan membuat Anda marah kepada saya. Sungguh, seandainya saya berbicara kepada Anda dgn jujur niscaya Anda melihatnya ada pada saya. Saya betul-betul berharap pemaafan Allah l dlm masalah ini.
Tidak. Demi Allah, saya tak punya uzur sama sekali. Saya tak pernah merasa keadaan saya lebih kuat & lebih mudah sama sekali dibandingkan ketika saya tertinggal dari Anda.”
Kemudian Rasulullah n berkata, “Adapun dia ini, sudah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah l memberi keputusan tentangmu.”
Saya pun berdiri, & berdatanganlah orang-orang Bani Salimah menyusul sambil mengatakan, “Demi Allah, kami tak pernah lihat engkau berbuat kesalahan sebelum ini, engkau sungguh lemah. Mengapa engkau tak meminta uzur kepada Rasulullah n sebagaimana orang-orang yang tertinggal meminta uzur kepada beliau? Sudah cukup dosamu itu dgn Rasulullah n memintakan ampun untukmu.”
Demi Allah, mereka terus-menerus mendorong saya sampai saya berkeinginan rujuk & mendustakan diri sendiri. Kemudian saya katakan kepada mereka, “Apakah ada orang yang mengalami keadaan seperti ini bersama saya?”
Kata mereka, “Ya, ada dua orang. Mereka mengucapkan hal yang sama seperti engkau & dikatakan kepada mereka seperti yang diucapkan kepadamu.”
Saya pun bertanya, “Siapa mereka?”
Kata mereka, “Murarah bin ar-Rabi’ al-‘Amri & Hilal bin Umayyah al-Waqifi.” Mereka menyebutkan dua orang saleh yang pernah ikut perang Badr. Mereka adalah teladan bagiku. Saya pun tetap melanjutkan sikap saya setelah mereka menyebut dua orang saleh ini.
Rasulullah n mulai melarang kaum muslimin berbicara dgn kami bertiga di antara orang-orang yang tertinggal. Akhirnya, orang banyak mulai menjauhi kami. Keadaan pun berubah, sampai saya merasa diri saya asing di bumi ini (Madinah). Seolah-olah tanah (Madinah) ini bukan seperti yang saya kenal. Dan kami merasakannya selama lima puluh hari.
Kedua sahabatku merasa hina & hanya berdiam diri di rumah mereka sambil menangis. Sedangkan aku yang lebih muda & lebih tabah, selalu keluar & ikut shalat bersama kaum muslimin, berkeliling di pasar-pasar dlm keadaan tak seorang pun mengajakku bicara. Saya mencoba mendatangi Rasulullah n utk mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau duduk di majelisnya seusai shalat.
Saya bertanya dlm hati, “Apakah beliau menjawab salamku atau tidak?” Saya berusaha shalat di dekat beliau sambil mencuri-curi pandang. Kalau saya menekuni shalat saya, beliau menghadap ke arahku. Tapi kalau saya menoleh ke arah beliau, beliau membuang muka.
Sampai ketika saya merasakan kekakuan orang banyak ini semakin lama, saya berjalan lalu memanjat pagar rumah Abu Qatadah. Dia adalah anak paman saya & orang yang paling saya cintai. Saya mengucapkan salam kepadanya, tapi demi Allah, dia tak menjawab salam saya.
Saya pun berkata, “Wahai Abu Qatadah, saya sumpahi engkau demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa saya mencintai Allah l & Rasul-Nya?” Dia tetap diam. Saya ulang menyumpahinya, tapi dia diam. Saya pun mengulangi lagi.
Akhirnya, Abu Qatadah berkata, “Allah l & Rasul-Nya lebih tahu.”
Air mata saya mulai berlinang. Saya pun mundur & turun dari pagar itu.
Abu Qatadah tak mengatakan ya atau tidak. Sepatah kata tidaklah dianggap bicara. Bagaimana Ka’b tak menangis, saudara sepupu yang sangat dicintainya, tak menjawab salam & pertanyaannya, padahal dia sudah menuntutnya dgn sumpah, yang jelas-jelas sebagai perkara ibadah. Di samping itu, pertanyaan Ka’b dgn sumpah itu sama artinya menuntut sebuah persaksian. Akan tetapi, Abu Qadatah tak mau bersaksi walaupun dia mengetahui Ka’b mencintai Allah l & Rasul-Nya.
Suatu hari, tatkala saya sedang berjalan di sebuah pasar kota Madinah, tiba-tiba seorang nabthi (orang Arab yang bercampur dgn Romawi & ajam [non-Arab] sehingga nasabnya tercampur & bahasanya rusak) dari penduduk Syam yang biasa membawa makanan utk dijual di Madinah bertanya, “Siapa yang bisa menunjukkan kepada saya Ka’b bin Malik?”
Orang banyak serentak menunjuk ke arah saya. Akhirnya dia menemui saya & menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan.
Ternyata isinya, “Amma ba’du,… Sebetulnya sampai berita kepadaku bahwa temanmu (Muhammad n) mengucilkanmu. Allah tak akan menjadikanmu tetap di tempat yang hina & tersia-sia. Datanglah kepada kami niscaya kami memuliakanmu.”
Akan tetapi, beliau z adalah orang yang beriman kepada Allah l & Rasul-Nya serta mencintai Allah l & Rasul-Nya. Dalam keadaan terkucil, terasing, & tak diajak bicara, bahkan oleh kerabat yang sangat dicintai, kalau saja beliau orang yang lemah iman, tentu dgn segera menyambut tawaran itu.
Setelah membacanya saya pun berkata, “Ini juga musibah,” lalu saya menyalakan tungku & membakarnya.
Demikianlah seharusnya yang dilakukan oleh orang yang ingin menyelamatkan diri dari fitnah: menghancurkan sesuatu yang menjadi sebab timbulnya fitnah bagi dirinya.
Empat puluh malam mulai merambat. Tak lama, datang utusan Rasulullah n menemui saya & berkata, “Sesungguhnya Rasulullah n memerintahkan engkau agar menjauhi istrimu.”
Saya bertanya, “Apakah saya harus menceraikannya atau apa yang saya lakukan?” Katanya, “Tidak. Engkau hanya diperintah agar menjauhinya & jangan mendekatinya.” Seperti itu juga yang disampaikan kepada dua sahabat saya itu.
Kemudian saya katakan kepada istri saya, “Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah di sana sampai Allah l memutuskan perkara ini.”
Datanglah istri Hilal bin Umayyah menemui Rasulullah n, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah seorang laki-laki renta & tak punya pelayan. Apakah Anda tak suka kalau saya melayaninya?” Kata beliau, “Tidak, tapi dia tak boleh mendekatimu.”
Wanita itu berkata, “Sungguh, demi Allah, dia tak ada keinginan lain kepada sesuatu. Demi Allah, dia terus menangis sejak awal kejadian ini sampai hari ini.”
Sebagian keluarga saya berkata, “Sebaiknya engkau meminta izin kepada Rasulullah n tentang istrimu sebagaimana diizinkan utk istri Hilal bin Umayyah agar dia melayanimu.”
Saya pun berkata, “Demi Allah, saya tak akan meminta izin untuknya kepada Rasulullah n. Apa kira-kira yang akan saya katakan, seandainya saya minta izin kepada Rasulullah n, padahal saya seorang pemuda?”
Akhirnya, tinggallah saya dlm kondisi demikian selama sepuluh hari, hingga genap lima puluh hari sejak Rasulullah n melarang kami semua.
Satu bulan lebih, wahyu tak juga turun. Itulah salah satu rahasia hikmah Allah k dlm setiap urusan besar, sehingga kaum muslimin benar-benar merasa rindu kepada wahyu itu.
Seusai shalat shubuh di hari terakhir (kelima puluh), ketika saya sedang berada di atas loteng rumah, persis seperti diterangkan Allah l, “Jiwa terasa sesak, & bumi pun terasa sempit, padahal dia begitu luasnya,” saya mendengar suara teriakan di atas bukit cadas, dia berteriak sekeras-kerasnya, “Wahai Ka’b bin Malik, bergembiralah!”
Saya pun menyungkur sujud. Saya tahu, telah datang kelapangan & Rasulullah n memberitahukan adanya taubat dari Allah l atas kami ketika shalat shubuh. Kaum muslimin berduyun-duyun memberi ucapan selamat kepada saya & dua sahabat tersebut. Ada seseorang datang berkuda, ada pula dari bani Aslam berjalan cepat ke arah saya, mendaki gunung. Sedangkan suara lebih cepat dari kuda. Setelah pemilik suara itu datang, saya melepas baju saya & memberikannya kepada orang itu sebagai hadiah atas berita gembira tersebut. Padahal, demi Allah, saya tak punya baju yang lain pada hari itu. Akhirnya, saya meminjam sehelai baju & mengenakannya lalu berangkat menemui Rasulullah n. Orang-orang pun berduyun-duyun mengucapkan selamat kepada saya, kata mereka, “Selamat, karena taubatmu diterima oleh Allah l.” Hal itu berlangsung sampai saya masuk ke dlm masjid. Ternyata Rasulullah n sudah dikelilingi oleh para sahabat lain.
Tiba-tiba Thalhah bin ‘Ubaidullah berlari kecil menyambut & menyalami saya sambil mengucapkan selamat. Demi Allah, tak ada satu pun Muhajirin yang berdiri selain dia. Saya tak bisa melupakan hal ini dari Thalhah.”
Demikianlah keadaan mereka, yaitu orang-orang yang mencintai utk saudaranya apa yang mereka cintai utk dirinya. Mereka tak iri atau dengki atas kelebihan yang Allah l limpahkan kepada saudara mereka, yaitu turunnya wahyu yang agung yang menerangkan bahwa taubat mereka diterima. Bahkan, mereka mengucapkan selamat sampai Ka’b masuk ke dlm masjid.
Ka’b melanjutkan ceritanya.
“Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah n, beliau berkata dgn wajah berseri-seri, ‘Bergembiralah dgn sebaik-baik hari yang telah engkau lewati sejak engkau dilahirkan ibumu’.”
Rasulullah n benar, karena Allah l telah menurunkan taubatnya & taubat kedua temannya dlm Al-Qur’an yang dibaca. Rabb semesta alam yang mengucapkannya & menurunkannya kepada Muhammad n, terpelihara dgn perantaraan Jibril & terjaga sampai hari kiamat.
Tidak seorang pun selain para nabi, atau orang-orang yang disebut oleh Allah l dlm Al-Qur’an yang kisahnya terpelihara seperti kisah Ka’b & dua sahabatnya. Kisah ini abadi & senantiasa dibaca dlm Kitab Allah l, di bilik-bilik masjid, di mimbar-mimbar, & di mana pun. Siapa yang membaca kisah ini, dia memperoleh sepuluh kebaikan dari setiap huruf Al-Qur’an yang dibacanya.
Ka’b berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ini dari engkau atau dari sisi Allah l?”
Kata beliau, “Dari sisi Allah.” Dan kalau Rasulullah n gembira, wajahnya bersinar laksana kepingan bulan purnama.
Setelah duduk di hadapan beliau, saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sebagai bukti taubat, saya menyerahkan harta saya utk sedekah kepada Allah l & Rasul-Nya n.”
Rasulullah n berkata, “Tahanlah sebagian hartamu, tentu itu lebih baik.”
Kata saya, “Sesungguhnya, saya menahan bagian yang saya peroleh dari Khaibar.”
Kemudian saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah l menyelamatkan saya tak lain karena kejujuran. Termasuk taubat saya juga, saya tak akan berbicara kecuali yang benar selama saya masih hidup.”
Demi Allah, saya tak melihat ada seorang muslim yang Allah l beri ujian dlm hal kejujuran—sejak saya menyebutkan hal itu kepada Rasulullah n—yang lebih berat daripada yang diberikan kepada saya.
Belum pernah pula saya sengaja berdusta sejak mengatakan hal itu kepada Rasulullah n sampai hari ini. Sungguh, saya berharap Allah l memelihara saya dlm sisa-sisa umur saya.
Tak lama, Allah l menurunkan wahyu kepada Rasulullah n:
“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin & orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dlm masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, & terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas & jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dlm taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, & hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 117—119)
Demi Allah, tak pernah Allah l memberi nikmat yang lebih besar kepada saya—sesudah memberi saya hidayah kepada Islam—daripada kejujuran kepada Rasulullah n. Saya tak akan berdusta kepada beliau, yang akibatnya saya binasa sebagaimana hak orang yang berdusta. Sungguh, Allah l berfirman tentang orang-orang yang berdusta itu, karena menurunkan wahyu yang berisi hal yang lebih buruk daripada yang ditujukan kepada yang lain.
Allah l berfirman:
“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dgn nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis & tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tak ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (At-Taubah: 95—95)
Dan kefasikan adalah sebab tak diperolehnya keridhaan Allah l.
Ka’b melanjutkan lagi kisahnya.
Dahulu kami bertiga ditunda dari mereka yang diterima oleh Rasulullah n ketika mereka bersumpah kepada beliau, lalu beliau membai’at serta memintakan ampunan utk mereka. Rasulullah n menunda persoalan kami sampai Allah l memutuskannya. Itulah firman Allah l:
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka….” Maknanya bukan tertinggal dari peperangan, tapi ketertinggalan kami & penundaan beliau terhadap urusan kami dari mereka yang telah bersumpah kepada beliau & mengajukan alasan lalu beliau terima.”
Beberapa Faedah
1.    Seorang muslim boleh menceritakan dosanya sesudah taubat agar membangkitkan semangat orang lain utk bertaubat, apalagi bila dosa itu tersebar & diketahui orang banyak. Adapun dosa yang sifatnya rahasia atau yang terang-terangan tapi belum bertaubat, tak boleh diceritakan agar tak mendorong orang lain berbuat seperti itu, & dia pun menjadi golongan orang-orang yang mujaharah (terang-terangan berbuat dosa).
2.    Seorang mukmin merasakan kepedihan ketika menelantarkan sebuah kewajiban.
3.    Seorang mukmin tak akan mengejek saudaranya, tetapi membelanya, seperti yang dilakukan Mu’adz bin Jabal z terhadap Ka’b z.
4.    Memutuskan hubungan adalah obat yang ampuh utk mengembalikan orang-orang yang menyimpang kepada kebenaran. Larangan yang ada berlaku dlm urusan dunia atau melampiaskan kejengkelan.
5.    Mukmin yang sempurna tak akan menjual agamanya, walaupun diberi dunia & seisinya.
6.    Sujud syukur ketika memperoleh kelapangan, seperti yang dilakukan Ka’b.
Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 061

kisah orang yg di tangguhkan kematiannya siapakah sahabat perang tabok tiga orang sahabat tidak ikut perang tabuk 3 orang yang ditunda taubatnya pada perang tabuk adalah siapa? jumlah orang yang ditangguhkan kematiannya kisah 3 sahabat ditunda tobat perang tabuk 3 orang yang ditangguh penerimaan taubat manusia yang ditanguhkan perang tabuk perang tabuk