Permisalan Istri yang Buruk dalam Al-Qur’an Nabi Luth

Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al -Atsariyyah
 
Di akhirat kelak, setiap manusia akan menuai apa yang ia tanam di dunia. Begitu juga seorang istri. Ia akan menerima balasan sesuai dgn amalannya di dunia. Sebagus apapun suaminya, itu tak akan memperingannya dari adzab Allah.
Setiap muslimah tentu mendambakan dirinya dapat menjadi istri yang baik, istri yang shalihah, yang dipuji sebagai sebaik-baik perhiasan dunia oleh Ar-Rasul r:
“Dunia itu adalah perhiasan & sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”1
Sehingga, seorang muslimah dituntut utk senantiasa bersungguh-sungguh menjaga dirinya agar tak terpuruk dlm kejelekan & keburukan yang berakibat kehinaan bagi dirinya. Karenanya, ia semestinya berusaha mengambil ibrah (pelajaran) dari peristiwa atau kisah yang ada, baik yang telah lampau maupun yang belakangan. I‘tibar (mengambil pelajaran) seperti ini merupakan tuntunan dari Rabbul ‘Izzah, Allah I, sebagaimana firman-Nya:
“Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran bagi kalian, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Al-Hasyr: 2)
Di dlm Al-Qur`an yang mulia, Allah I banyak membuat permisalan/ perumpamaan utk hamba-hamba-Nya, agar mereka mau merenungkan & memikirkannya.
“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat utk manusia agar mereka berpikir.” (Al-Hasyr: 21)
Di antaranya, gambaran istri yang buruk disebutkan dlm ayat berikut ini:
“Allah membuat istri Nabi Nuh & istri Nabi Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah ikatan pernikahan dgn dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami. Lalu kedua istri itu berkhianat2 kepada kedua suami mereka, maka kedua suami mereka itu tak dapat membantu mereka sedikitpun dari siksa Allah, & dikatakan kepada keduanya: ‘Masuklah kalian berdua ke dlm neraka bersama orang-orang yang masuk neraka’.” (At-Tahrim: 10)
Istri Nabi Nuh & istri Nabi Luth Termasuk Orang-orang Kafir
Nabi Nuh u & Nabi Luth u merupakan dua insan yang Allah I pilih utk menerima risalah & menyampaikannya kepada kaum mereka. Kedua rasul yang mulia ini pun mengemban risalah dgn sebaik-baiknya, mengajak kaum mereka yang durhaka agar kembali kepada Allah I dgn mentauhidkan-Nya & meninggalkan periba-datan kepada selain-Nya.
Namun dgn ke-mahaadilan-Nya, Allah I menakdirkan istri kedua nabi yang mulia ini justru tak menerima dakwah suami mereka. Padahal keduanya adalah teman kala siang & malam, yang mendampingi ketika makan & tidur, selalu menyertai & menemani. Kedua istri ini mengkhianati suami mereka dlm perkara agama, karena keduanya beragama dgn selain agama yang diserukan oleh suami mereka. Keduanya enggan menerima ajakan kepada keimanan bahkan tak membenarkan risalah yang dibawa suami mereka.3
Disebutkan oleh Ibnu Abbas c bahwa istri Nabi Nuh berkata kepada orang-orang: “Nuh itu gila”. Bila ada seseorang yang beriman kepada Nabi Nuh u, ia pun mengabarkannya kepada kaumnya yang dzalim lagi melampaui batas4. Sementara istri Nabi Luth u mengabarkan kedatangan tamu Nabi Luth u kepada kaumnya5, padahal Nabi Luth u merahasiakan kedatangan tamunya karena khawatir diganggu oleh kaumnya6.
Inilah pengkhianatan mereka kepada suami mereka. Hubungan mereka berdua dgn suami yang shalih & kedekatan mereka tak bermanfaat sama sekali disebabkan kekufuran mereka7. Sehingga kelak di hari akhirat dikatakan kepada kedua istri tersebut: “Masuklah kalian berdua ke dlm neraka.”
Kedekatan Suami-Istri tanpa Disertai Keimanan Tidaklah Ber-manfaat di Sisi Allah I Kelak
Asy-Syaikh ‘Athiyyah Salim menyatakan: “Dalam firman Allah I:
“Maka kedua suami mereka itu tak dapat membantu mereka sedikitpun dari siksa Allah.”
(Dalam ayat ini) ada penjelasan bahwa pertalian suami istri tak bermanfaat sama sekali dgn adanya kekufuran dari salah satu pihak. Allah I telah menerangkan apa yang lebih penting daripada hal itu pada seluruh hubungan kekerabatan, seperti firman-Nya:
“Pada hari di mana tak bermanfaat harta & anak-anak.”
Dan firman-Nya:
“Pada hari di mana seseorang lari dari saudaranya, dari ibunya & bapaknya, dari istrinya & anak-anaknya.”
Allah I menjadikan dua wanita ini sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir, & ini mencakup seluruh kerabat sebagaimana yang telah kami sebutkan.
Aku pernah mendengar Asy-Syaikh (yakni Asy-Syinqithi) –semoga Allah I merahmati kami & beliau– dlm muhadharah (ceramah)nya pernah membahas permasa-lahan ini. Beliau pun menyebutkan kisah dua wanita tersebut, demikian pula kisah Nabi Ibrahim u bersama ayahnya, juga Nabi Nuh u bersama anaknya. Maka sempurnalah seluruh sisi kekerabatan: ada istri bersama suaminya, anak bersama bapaknya, & bapak bersama anaknya. Beliau juga menyebutkan hadits Rasulullah n:
“Wahai Fathimah (bintu Rasulullah), beramallah engkau karena aku tak bisa mencukupimu (menolongmu) dari Allah sedikitpun.”
Kemudian beliau berkata: “Hendaklah seorang muslim mengetahui bahwa tak ada seorang pun yang bisa memberikan keman-faatan kepada orang lain pada hari kiamat kelak, walaupun kerabat yang paling dekat, kecuali dgn perantara keimanan pada Allah & dgn syafaat yang diizinkan-Nya kepada hamba yang dimuliakan-Nya, sebagaimana dlm firman Allah I:
“Dan orang-orang yang beriman & diikuti oleh anak-anak turunan mereka dlm keimanan, maka akan Kami gabungkan mereka itu dgn anak-anak turunan mereka.” (Tatimmah Adhwa`il Bayan, 8/382)
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Ayat-ayat ini mengandung tiga permisalan, satu utk orang-orang kafir & dua permisalan lagi utk kaum mukminin8. Kandungan permisalan utk orang-orang kafir yaitu bahwa orang kafir akan disiksa karena kekufuran & permu-suhannya terhadap Allah I, rasul-Nya, & para wali-Nya. Dengan kekufurannya tersebut, hubungan nasab tak bermanfaat baginya, juga periparan (kekerabatan karena pernikahan) atau hubungan lainnya di antara sekian hubungan dgn kaum mukminin. Karena seluruh hubungan itu akan terputus pada hari kiamat, kecuali pertalian yang bersambung dgn Allah I saja lewat bimbingan tangan para rasul. Seandainya hubungan kekerabatan, periparan atau pernikahan itu bemanfaat walau tanpa disertai keimanan, niscaya hubungan Nuh dgn istrinya & Luth dgn istrinya akan bermanfaat. Namun ternyata keduanya tak dapat menolong istri mereka dari adzab Allah I sedikit pun. Bahkan dikatakan kepada istri-istri mereka: “Masuklah kalian ke dlm neraka bersama orang-orang yang masuk”. Ayat ini memutus keinginan & harapan orang yang berbuat maksiat kepada Allah I & menyelisihi perintah-Nya utk mendapat kemanfaatan dari kebaikan orang lain, baik dari kalangan kerabatnya atau orang asing, sekalipun ketika di dunia hubungan antara keduanya sangatlah erat. Tidak ada hubungan yang paling dekat daripada hubungan ayah, anak & suami istri. Namun lihatlah Nabi Nuh u tak dapat menolong anaknya, Nabi Ibrahim u tak dapat menolong ayahnya, Nabi Nuh & Luth e tak dapat menolong istrinya dari adzab Allah I sedikit pun. Allah I berfirman:
“Karib kerabat & anak-anak kalian sekali-kali tak akan bermanfaat bagi kalian pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kalian.” (Al-Mumtahanah: 3)
“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tak berdaya sedikitpun utk menolong orang lain.”(Al-Infithar: 19)
“Dan jagalah diri kalian dari adzab hari kiamat, yang pada hari itu seseorang tak dapat membela orang lain, walau sedikit pun.” (Al-Baqarah: 123)
“Takutlah kalian dgn suatu hari yang pada hari itu seorang bapak tak dapat menolong anaknya & seorang anak tak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun.” (Luqman: 33) [I‘lamul Muwaqqi‘in 1/188, sebagaimana dinukil oleh Al-Imam Al-Qasimi dlm tafsirnya Mahasin At-Ta`wil, 9/183-184]
Pelajaran yang Bisa Dipetik
q Hubungan & kedekatan seorang istri dgn suami yang shalih, berilmu & berakhlak mulia, tak bermanfaat sama sekali di hadapan Allah I kelak, bila si istri tetap berkubang dlm kejelekan & dosa.
q Adzab Allah I hanya bisa dihindari dgn ketaatan bukan dgn wasilah (perantara), sehingga seorang istri yang durhaka namun ia memiliki suami yang shalih tak akan bisa menghindar dari adzab Allah I dgn perantara kedekatannya dgn sang suami.
q Dengan adanya perintah agar istri Nuh & istri Luth masuk ke dlm neraka , Allah I hendak memutus harapan setiap orang yang berbuat maksiat dari mendapatkan keman-faatan dari keshalihan orang lain.
q Seorang istri tak sepantasnya berkhianat kepada suaminya dlm kehor-matan maupun dlm agamanya. Bahkan ia harus menyepakati suaminya dlm kebaikan & ketaatan. Terlebih bila suaminya adalah seorang da‘i, dia mestinya menjadi orang pertama yang mengikuti dakwah suami & mendukung dakwahnya, sebagaimana yang dilakukan Khadijah x dgn suaminya yang mulia, Rasulullah n.
q Masing-masing orang harus beramal agar selamat di akhiratnya karena menda-patkan rahmat Allah I & tak mengandalkan amal orang lain. Termasuk pula seorang istri, ia harus bertakwa kepada Allah I, menjalankan apa yang diperintahkan & menjauhi apa yang dilarang. Janganlah ia tertipu dgn kebera-daan suaminya, bagaimanapun keshalihannya, keilmuannya yang tinggi & kedudukannya yang mulia dlm agama, di hadapan mad‘u-nya & masyarakatnya. Jangan ia merasa cukup dgn bersuamikan seorang ustadz atau seorang syaikh sekalipun, lalu ia merasa aman, merasa pasti masuk surga karena kedudukan suaminya. Sehingga ia pun duduk berpangku tangan enggan utk belajar agama Allah I guna menghilangkan kejahilannya, & malas pula beramal shalih9. Kita katakan pada orang seperti ini: Ambillah pelajaran wahai ukhti dari kisah istri dua nabi yang mulia, Nuh & Luth i.Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 HR. Muslim no. 1467, kitab Ar-Radha’ bab Khairu Mata’id Dunya Al-Mar`atush Shalihah
2 Berkhianat di sini bukan maksudnya mereka berdua menyeleweng/selingkuh dgn lelaki lain yang bukan suami mereka dgn melakukan zina atau perbuatan fahisyah/keji lainnya. Karena para istri nabi terjaga dari berbuat fahisyah disebabkan kehormatan/ kemuliaan para nabi tersebut. Dengan demikian Allah I tak mungkin memasangkan nabinya dgn seorang istri yang suka melacurkan diri (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 874, Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1423). Para mufassirin sepakat, tak ada seorang pun dari istri nabi yang berzina (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, Al-Qurthubi, 18/131, Fathul Qadir 5/305)
3 Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1423, Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 874
4 Ma‘alimut Tanzil/ Tafsir Al-Baghawi 4/338, Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash, 4/624
5 Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dlm tafsirnya no. 34461, 34462
6 Karena kaum Nabi Luth u punya kebiasaan keji, mereka senang melakukan hubungan dgn sesama jenis (homoseksual). Bila melihat seorang lelaki yang tampan, mereka sangat bernafsu utk mengumbar syahwat binatang mereka. Nabi Luth u pernah kedatangan tamu yang terdiri dari para malaikat dgn rupa lelaki yang rupawan. Allah I kisahkan dlm Al-Qur`an:
“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, ia merasa susah & merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, & ia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit”. Akhirnya datanglah kaumnya kepadanya dgn bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Wahai kaumku, inilah putri-putriku (nikahi mereka para wanita, –pent.) mereka lebih suci bagi kalian, maka bertakwalah kepada Allah & janganlah kalian mencemarkan namaku di hadapan tamuku ini. Tidak adakah di antara kalian seorang yang berakal?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu, & sungguh kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki”. Luth berkata: “Seandainya aku memiliki kekuatan utk menghadapi kalian atau jika aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat tentu akan aku lakukan”. Para utusan itu berkata: “Wahai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tak akan dapat mengganggumu. Karena itu pergilah dgn membawa keluarga & pengikut-pengikutmu di akhir malam, jangan ada seorang pun di antara kalian yang tertinggal (jangan menoleh ke belakang), kecuali istrimu, sungguh dia akan ditimpa adzab seperti yang menimpa mereka…” (Hud: 77-78)
7 Tafsir Abdurrazzaq Ash-Shan‘ani 3/324, Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an/Tafsir At-Thabari, 12/160-161, Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 874, Adhwa`ul Bayan 8/381
8 Seperti disebutkan dlm kelanjutan ayat di atas (At-Tahrim: 11-12):
“Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berdoa: ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dlm jannah (surga), & selamatkanlah aku dari Fir’aun & perbuatannya, & selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.’ Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dlm rahimnya sebagian ruh (ciptaan) Kami, & Maryam membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya & kitab-kitab-Nya. Adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”
9 Namun bagaimana ia bisa beramal dgn benar & tepat bila tak belajar? Bukankah al ilmu qablal qauli wal ‘amali (ilmu itu sebelum berucap & beramal), seperti ucapan Al-Imam Al-Bukhari ketika memberi judul bab (tarjumah) dlm Shahihnya, (kitab Al ‘Ilm).

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 020

mimpi istri selingkuh mimpi istri selingkuh makna mimpi istri selingkuh makna mimpi istri selingkuh mimpi melihat istri selingkuh dng teman mimpi istri selingkuh dengan teman arti mimpi istri di bawa lari orang arti mimpi istri selingkuh mimpi istri selingkuh pertanda apa ? mimpi istri selingkuh atau berzina di belakang arti mimpi istri selingkuh mimpi istri bersetubuh dgn orang lain arti mimpi istri selingkuh arti mimpi istri selingkuh arti mimpi istri selingkuh