Penyelenggaraan Jenazah 4 (Menguburkan Jenazah) Penyelenggaraan Jenazah

بسم الله الرحمن الرحيم

Pemakaman Jenazah Dan Hal-Hal Yg Berkaitan Dengannya

Diwajibkan membawa & mengiringi jenazah. Hal ini adalah di antara hak jenazah muslim yang harus dipenuhi oleh kaum muslimin yang lain. Banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini, di antaranya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ (وَفِي رِوَايَةٍ: يَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيْهِ) خَمْسٌ: رَدُّ السَّلِامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةَ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ

“Hak seorang muslim terhadap muslim lain (dalam sebuah riwayat : “Perkara yang wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya…”) ada lima : Menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, & menjawab orang yang bersin.”

Diriwayatkan oleh Al Bukhari (3/88) & konteks hadits di atas adalah riwayat beliau, & diriwayatkan pula oleh Muslim (7/3) dgn riwayat kedua.

Disunnahkan memanggul jenazah di atas pundak dari empat sisi & mempercepat langkah (dengan tak berlebihan) ketika membawanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Bersegeralah kalian menyelesaikan penyelenggaraan jenazah. Karena bila jenazah itu adalah jenazah orang shalih maka berarti kalian telah mempercepat kebaikan untuknya, & jika dia bukan orang shalih maka berarti kalian telah menyingkirkan kejelekan dari pundak kalian”. (HR. Al-Bukhari no. 1315 & Muslim no. 944).

Asy Syaikh Al Albani rahimahullah berkata :

وَيَجِبُ الْاِسْرَاعُ فِي السَّيْرِ بِهَا، سَيْرًا دُوْنَ الرَّمْلِ

“Wajib mempercepat jalan ketika membawa jenazah, dgn berjalan yang tingkatannya di bawah lari-lari kecil.” (Ahkamul Janaiz 1/71)

Orang-orang yang mengiringi jenazah boleh berjalan di depan jenazah, di belakang, di sebelah kanan maupun sebelah kirinya, asal masih dekat dgn jenazah. Adapun orang yang mengiringi dgn kendaraan, maka dia harus berada di bagian belakang. Riwayat tentang semua itu telah datang dlm hadits.الراكب (يسير) خلف الجنازة، والماشي حيث شاء منها، (خلفها وأمامها، وعن يمينها، وعن يسارها، قريبا منها) ، والطفل يصلى عليه، (ويدعى لوالديه بالمغفرة والرحمة)

“Orang yang berkendaraan hendaknya berada di belakang jenazah. Orang yang berjalan kaki boleh berada di arah yang dia kehendaki, di belakang jenazah, di depan, di sebelah kanan, atau di sebelah kirinya, yang dekat dgn jenazah. Anak kecil yang meninggal hendaknya dishalati, & kedua orangtuanya hendaknya didoakan dgn ampunan & rahmat.”

 (Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/65), An Nasa’i (1/275-276), At Tirmidzi (2/144), Ibnu Majah (1/451,458), Ath Thahawi (1/278), Ibnu Hibban dlm Shahih beliau (769), Al Baihaqi (25 & 84), Ath Thayalisi (701-702), & Ahmad (4/247,248-249,249,252) dari hadits Al Mughirah bin Syu’bah. At Tirmidzi berkata : “Hadits hasan shahih.” Al Hakim berkata : “Shahih atas syarat Al Bukhari.” Adz Dzahabi menyetujuinya. Asy Syaikh Al Albani rahimahullah berkata : “Keadaan hadits di atas sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (At Tirmidzi & Al Hakim).”) [Ahkamul Janaiz 1/73]

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر كانوا يمشون أمام الجنازة وخلفها

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, & Umar (radhiallahu ‘anhuma) dahulu pernah berjalan di depan jenazah maupun di belakangnya.”

(Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1483), Ath Thahawi (1/278) dari dua jalan, dari Yunus bin Yazid & Ibnu Syihab darinya).

Asy Syaikh Al Albani rahimahullah berkata :

Ketika memasuki pemakaman, hendaknya memberi salam kepada penghuni kubur dari kalangan kaum muslimin & mendoakan kebaikan bagi mereka. Di antara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya yang berziarah kubur :اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dari kalangan kaum mu’minin & muslimin. Mudah-mudahan Alloh merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita & orang-orang yang belakangan, & kami Insya Alloh akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Alloh keselamatan bagi kami & bagi kalian”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim 975, An-Nasa`i 4/94, Ahmad 5/353, 359, 360.

اَلسَّلاَمُ عَلَى أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنِ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ

“Keselamatan atas penghuni kubur dari kalangan kaum mu’minin & muslimin. Mudah-mudahan Alloh merahmati orang-orang terdahulu dari kita & orang-orang belakangan. Dan kami Insya Alloh akan menyusul kalian”.

Hendaknya tak berjalan di atas pemakaman dgn mengenakan sandal. Hal ini berdasarkan hadits Basyir bin Khashoshiah :بَيْنَمَا هُوَ يَمْشِيْ إِذْ حَانَتْ مِنْهُ نَظَرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بَيْنَ الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلاَنِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ فَنَظَرَ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَرَمَى بِهِمَا

“Ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi  wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang berjalan di antara kuburan dgn mengenakan sandal. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai orang yang memakai sandal ! Celakalah engkau, lepaskanlah sandalmu !” Maka orang itu melihat (sumber suara-pent). Tatkala ia mengetahui (bahwa yang memerintah adalah-pent) Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, ia melepaskan kedua sandalnya & melemparkannya. Diriwayatkan oleh Abu Daud 2/72, An-Nasa`i 1/288, Ibnu Majah 1/474, Al-Hakim 1/373 & dia berkata : “Sanadnya shohih”, & disepakati oleh Adz-Dzahaby & dikuatkan (diakui) oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bary 3/160).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di antara kuburan dgn sandal” (Fathul Bary 3/160). Berkata Syaikh Al-Albany : “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di pemakaman dgn memakai sandal.” (Lihat Ahkamul Janaiz 252).

Tidak boleh duduk, menginjak, atau bersandar pada kuburan.Hal ini berdasarkan hadits Abu Martsad radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan & jangan melakukan shalat padanya”. Dikeluarkan oleh Imam Muslim 2/228.

Dan juga berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُجَصَّصَ القُبُورُ، وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا، وَأَنْ تُوطَأَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan memplester kuburan, menulisinya, membangunnya, & menginjaknya.”

Diriwayatkan secara marfu’ oleh At Tirmidzi (3/359) & dishahihkan oleh beliau.

Dan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda :

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحُدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga (bara api itu) membakar pakaiannya sampai mengenai kulitnya itu adalah lebih baik daripada dia duduk di atas kuburan”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

“Ini adalah sanad yang shahih menurut syarat Asy Syaikhain (Al Bukhari da Muslim).” (Ahkamul Janaiz 1/74).

Diwajibkan memperdalam & memperluas lubang kubur agar jenazah terjaga dari jangkauan binatang buas & baunya tak merebak keluar. Hal ini berdasarkan hadits berikut :عن هشام بن عامر قال:

لما كان يوم أحد أصيب من أصيب من المسلمين وأصاب الناس جراحات فقلنا: يا رسول الله الحفر علينا لكل إنسان شديد فكيف تأمرنا فقال:

“احفروا وأوسعوا وأعمقوا وأحسنوا وادفنوا الاثنين والثلاثة في القبر وقدموا أكثرهم قرآنا.

قال: فكان أبي ثالث ثلاثة وكان أكثرهم قرآنا فقدم”.

Dari Hisyam bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :“Pada perang Uhud ada banyak kaum muslimin yang terbunuh & terluka. Maka kami berkata : ‘Wahai Rasulullah, membuat lubang kubur utk setiap orang adalah hal yang berat bagi kami. Lalu apa yang akan anda perintahkan utk kami?’ Beliaupun berkata : “Galilah lubang, perluaslah, perdalamlah, & perbaguslah. Kuburkanlah dua & tiga orang dlm satu kuburan, & dahulukan yang lebih banyak hafalan Al Qur’annya di antara mereka.” “

Hisyam bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu berkata : “Maka ayahku adalah orang ketiga dari tiga orang yang akan dikubur dlm satu lubang. Tetapi karena beliau memiliki hafalan Al Qur’an paling banyak di antara mereka, maka beliaulah yang terlebih dahulu diletakkan di dlm kubur.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/70), An Nasa’i (1/283-284), At Tirmidzi (3/36), Al Baihaqi (4/43), Ahmad (4/19 & 20), & Ibnu Majah secara ringkas. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dlm Ahkamul Janaiz hal. 182.

 

Ada dua jenis lubang kubur, yaitu Lahad & Syaq. Lahad & adalah lubang (membentuk huruf U memanjang) yang dibuat khusus di dasar kubur pada bagian arah kiblat utk meletakkan jenazah di dalamnya. Sedangkan Syaq adalah lubang yang dibuat khusus di dasar kubur pada bagian tengahnya (membentuk huruf U memanjang).

Lubang kubur boleh dibuat dlm bentuk lahad maupun syaq karena berjalannya amalan kaum muslimin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap dua hal itu. Dalilnya adalah hadits berikut :

وعن عائشة -رضي الله عنها- قالت: لما مات رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، اختلفوا في اللحدِ والشق، حتى تكلموا في ذلك وارتفعت أصواتهم، فقال عمر: لا تصخَبوا عند رسول الله -صلى الله عليه وسلم- حياً ولا ميتاً، أو كلمة نحوها، فأرسلوا إلى الشقَّاق واللاحد جميعاً، فجاء اللاحد فلحد لرسول الله -صلى الله عليه وسلم-، ثم دفن -صلى الله عليه وسلم-.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata : “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, mereka (para shahabat-pent) berselisih apakah beliau akan dikubur dlm lahad atau syaq, sampai-sampai mereka ramai membicarakan hal itu & suara-suara mereka meninggi. Maka ‘Umar – radhiallahu ‘anhu- berkata,”Janganlah kalian ribut di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik ketika beliau masih hidup ataupun ketika beliau sudah wafat.” Atau kalimat yang semisalnya. Maka mereka mengutus beberapa orang utk memanggil orang yang biasa membuat lubang syaq & orang yang biasa membuat lubang lahad. Lalu datanglah orang yang biasa membuat lubang lahad. Maka dibuatkanlah lahad utk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau dimakamkan.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/497) dlm Kitabul Janaiz. Al Bushairi berkata dlm Az Zawaid (1/507) : “Ini adalah sanad yang shahih. Perawinya adalah orang-orang yang tsiqah.” Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dlm Shahih Sunan Ibnu Majah No. 1265.

Tetapi liang lahad lebih baik daripada syaq. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُ لِغَيْرِنَا

“Liang lahad itu adalah bagi kita (kaum muslimin), sedangkan syaq bagi selain kita (non muslim).” (HR. Abu Dawud & dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dlm “Ahkamul Janaaiz” hal. 145).

Al Imam An Nawawi berkata dlm Al Majmu’ (5/287) :

“Para ulama sepakat bahwa mengubur dlm liang lahad & syaq adalah boleh. Tetapi jika tanahnya keras & tak rapuh maka yang afdhal adalah lahad berdasarkan dalil-dalil yang telah lewat. Adapun jika tanahnya lunak & rapuh maka syaq lebih afdhal.”

Disunnahkan memasukkan jenazah ke liang lahat dari arah kaki kuburan lalu diturunkan ke dlm liang kubur secara perlahan. Dasarnya adalah hadits Abu Ishaq As Sabi’i (seorang tabi’in masyhur), beliau berkata :أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنِ يَزِيْدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْ القَبْرِ وَقَالَ: هَذَا مِنَ السُّنَّةِ.

“Al Harits berwasiat agar ‘Abdullah bin Yazid -radhiallahu ‘anhu- menyolatinya. Maka ‘Abdullah bin Yazid pun menyolatinya, kemudian memasukkan jenazahnya ke dlm kuburan dari arah kedua kaki kuburan. Beliau berkata : Ini termasuk tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dlm Al Mushannaf (4/130), Abu Dawud (2/69) dari jalannya juga dikeluarkan oleh Al Baihaqi (4/54) & beliau berkata : “Ini adalah sanad yang shahih.”

Juga perkataan Muhammad bin Sirin rahimahullah :

كُنْتُ مَعَ أَنَسٍ فِي جِنَازَةٍ فَأَمَرَ بِالْمَيِّتِ فَسُلَّ، مِنْ قِبَلِ رِجْلَ الْقَبْرِ

“Dahulu saya pernah bersama Anas menghadiri (penguburan) jenazah. Lalu beliau memerintahkan agar jenazahnya diturunkan. Maka jenazah itupun diturunkan pelan pelan dari arah kaki kuburan.”

Dikeluarkan oleh Ahmad (4081) & Ibnu Abi Syaibah (4/130), & sanadnya Shahih. (Ahkamul Janaiz hal. 190-192).

Jika tak memungkinkan, boleh menurunkannya dari arah kiblat.

Orang yang menurunkan jenazah ke lubang kubur hendaklah mengucapkan:بِسْمِ اللَّهِ ، وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ

“Dengan menyebut nama Alloh & di atas agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.”

atau

بِسْمِ اللَّهِ ، وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ

“Dengan menyebut nama Alloh & di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.”

Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma :

أَنَّ النَِّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا وَضَعَ المَيِّتَ فِي الْقَبْرِ، قَالَ : (وَ فِي لَفْظٍ : أَنَّ النَِّبيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ فَقُولُوا) : بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ ، (و في رواية : مِلَّةِ) رَسُولِ اللَّهِ 

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dahulu jika meletakkan jenazah di dlm kubur, beliau berkata (dan dlm sebuah lafadz : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :  Jika kalian meletakkan jenazah-jenazah kalian di dlm kubur, maka ucapkanlah) : “Bismillah wa ‘ala sunnati (dalam sebuah riwayat : millati) Rasulillah.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/70) At Tirmidzi (2/152,153), Ibnu Majah (1/470), Ibnu Hibban dlm Shahih beliau (773), Al Hakim (1/366), Al Baihaqi (4/55), & Ahmad (nomor 4990, 5233, 5370, & 6111) dari dua jalan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma. sanadnya Shahih. (Ahkamul Janaiz hal. 190-192).

Disunnahkan membaringkan jenazah dgn bertumpu pada sisi kanan jasadnya (dalam posisi miring) & menghadap kiblat. Dengan keadaan seperti inilah berjalan amalan ahlul Islam dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sampai hari ini. Demikian sebagaimana yang disebutkan dlm Al Muhalla (5/173) & selainnya. Salah satu dalilnya adalah perkataan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wassalam tentang Ka’bah :قِبْلَتِكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا

“Kiblat kalian ketika masih hidup maupun sudah mati.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3/115) & selain beliau.

Setelah jenazah diletakkan di dlm rongga liang lahad & tali-tali selain kepala & kaki dilepas, maka rongga liang lahad tersebut ditutup dgn batu bata atau papan kayu/bambu dari atasnya (agak samping). Lalu sela-sela batu bata-batu bata itu ditutup dgn tanah liat agar menghalangi sesuatu yang masuk sekaligus utk menguatkannya.Disunnahkan bagi orang yang berada di dekat liang itu utk menabur tiga genggaman tanah ke dlm liang kubur setelah jenazah diletakkan di dalamnya. Setelah itu ditumpahkan (diuruk) tanah ke atas jenazah tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu :أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا

 ”Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menshalati jenazah kemudian beliau mendatangi kuburan jenazah itu lalu beliau menabur tiga genggaman tanah kepadanya dari arah kepalanya tiga kali.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/499) dgn sanad yang bagus. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dlm Irwaul Ghalil (3/200).

Setelah selesai mengubur, disunnahkan beberapa perkara :Hendaklah meninggikan makam dari tanah kira-kira sejengkal, & tak diratakan dgn tanah sebagai tanda bahwa itu adalah makam sehingga tetap dijaga & tak dihinakan. Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu :أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُلْحِدَ لَهُ لَحْدًا، وَنُصِبَ عَلَيْهِ اللَّبِنَ نَصْبًا وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam (ketika wafat) dibuatkan utk beliau liang lahad, & ditegakkan sebuah batu di atasnya, & kuburan beliau ditinggikan dari tanah sekitar sejengkal.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dlm Shahih beliau (2160) & Al Baihaqi (3/410) dgn sanad yang bagus.

Hendaklah makam dibuat gundukan seperti punuk unta. Hal ini berdasarkan hadits Sufyan At Tammar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :رَأَيْتُ قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَبْرَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ مُسَنَّمًا

“Saya melihat kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam serta kuburan Abu Bakr & Umar dibuat gundukan seperti punuk unta.”

Dikeluarkan oleh Al Bukhari 3/198-199) & Al Baihaqi (4/3). Serta diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah & Abu Nu’aim dlm Al Mustakhraj, sebagaimana disebutkan dlm At Talkhis karya Ibnu Hajar. Tambahan lafadznya adalah milik mereka berdua.

Hendaklah makam itu ditandai dgn batu atau yang semisalnya agar keluarganya yang meninggal setelahnya bisa dikubur di sebelahnya. Hal ini berdasarkan hadits Al Muthallab radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ، أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ، فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ، قَالَ كَثِيرٌ: قَالَ الْمُطَّلِبُ: قَالَ الَّذِي يُخْبِرُنِي ذَلِكَ: عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ، وَقَالَ: «أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي، وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي»

“Ketika ‘Utsman bin Madh’un meninggal, jenazah beliau dikeluarkan lalu dimakamkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memerintah seseorang agar membawakan sebuah batu, tapi orang itu tak mampu mengangkatnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam beranjak menuju batu itu & menyingsingkan kedua lengan baju beliau. Katsir (seorang perawi) berkata : Al Muthallab berkata : Telah berkata orang yang mengabarkan kepadaku tentang hal itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam : “Seakan-akan saya melihat putihnya kedua lengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau menyingsingkan kedua lengan baju beliau. Kemudian beliau membawa batu itu & meletakkannya di bagian kepala makam. Beliau berkata : “Saya memberi tanda kuburan saudaraku dgn batu itu, & saya akan mengubur di sebelahnya anggota keluarga saya yang meninggal.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/69) & Al Baihaqi (3/412) dgn sanad hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar dlm At Talkhis (5/229).

Hendaknya jenazah yang sudah dikubur itu tak ditalqin dgn talqin yang ma’ruf pada hari ini karena hadits yang datang tentangnya tak sah. Bahkan hendaknya berdiri di dekat kubur & mendoakan keteguhan serta memintakan ampun bagi orang yang meninggal itu, serta memerintah hadirin utk melakukan hal tersebut. Hal ini berdasarkan hadits ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: «اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ»

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam jika telah selesai mengubur jenazah, beliau berdiri di dekat kubur itu lalu berkata : “Mohonkanlah ampun kepada Alloh utk saudara kalian & mintakanlah keteguhan untuknya. Sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/70) & Al Hakim (1/370), Al Baihaqi (4/56) & Abdullah bin Ahmad dlm Zawaid Az Zuhd (hal. 129). Al Hakim berkata : “Sanadnya shahih.” Adz Dzahabi menyetujui penshahihan tersebut. Asy Syaikh Al Albani berkata (Ahkamul Janaiz hal. 198) : “Hadits tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua.”

Haram hukumnya menyemen & membangun kuburan. Demikian pula menulisi batu nisan. Dan diharamkan juga duduk di atas kuburan, menginjaknya serta bersandar padanya. Hal ini berdasarkan hadits Jabir  radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ , وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ ” رواه مسلم زاد الترمذى: ” وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا “.

” Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan memplester kuburan, membangunnya, & duduk di atasnya.” Hadits riwayat Muslim. At Tirmidzi menambahkan : “Dan (melarang) perbuatan menulisi kuburan.”

Hadit di atas diriwayatkan oleh Muslim (3/62), Abu Dawud (3225), An Nasa’i (1/285), At Tirmidzi (1/196) & Al Hakim (1/370), Al Baihaqi (4/4), Ahmad (3/295,332), & Ibnu Abi Syaibah (4/134,136,137). Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dlm Irwaul Ghalil (3/207).

Dan hadits jabir radhiallahu ‘anhu

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُجَصَّصَ القُبُورُ، وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا، وَأَنْ تُوطَأَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan memplester kuburan, menulisinya, membangunnya, & menginjaknya.”

Diriwayatkan secara marfu’ oleh At Tirmidzi (3/359) & dishahihkan oleh beliau.

Ada perincian dlm masalah memplester kuburan, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah :

إن كان المقصود من التطين المحافظة على القبر وبقائه مرفوعا قدر ما سمح به الشرع، وأن لا تنسفه الرياح ولا تبعثره الامطار، فهو جائز بدون شك لانه يحقق غاية مشروعة. ولعل هذا هو وجه من قال من الحنابلة أنه يستحب.

وإن كان المقصود الزينة ونحوها مما لا فائدة فيه فلا يجوز لانه محدث.

“Jika maksud dari memplester adalah utk menjaga kuburan itu & agar tetap nampak tinggi dgn ukuran yang dibolehkan oleh syariat (sekitar satu jengkal-pent), serta agar tak dihambur-hamburkan oleh angin & diceraiberaikan oleh hujan, maka hal itu diperbolehkan tanpa ragu lagi karena akan mewujudkan tujuan yang disyariatkan (menjaga keutuhan & kehormatan kuburan-pent). Bisa jadi ini adalah alasan yang dipakai oleh beberapa ulama Hanabilah yang berpendapat mustahabnya memplester kuburan. Adapun jika maksud dari memplesternya adalah utk hiasan & yang semisalnya dari perkara yang tak bermanfaat, maka tak diperbolehkan karena merupakan perkara yang baru (dalam agama-pent).” (Ahkamul Janaiz 1/205-206)

Referensi :

Ahkamul Janaiz – Syaikh Al Albani

Talkhis Ahkamul Janaiz – Syaikh Al Albani

Subulus Salam – Al Imam Ash Shan’ani

Irwaul Ghalil – Syaikh Al Albani

(Semua referensi di atas diambil dari Al Maktabah Asy Syamilah)

Al Mulakhas Al Fiqhi – Syaikh Al Fauzan
sumber: www.mediasalaf.com tags: Al Qur, Al Baqarah, Alaihi Wa Sallam, Sabda Rasulullah,

doa setelah menguburkan jenazah bacaan menabur tanah saat mengubur jenazah posisi menguburkan jenazah doa ngubur mayat apakah ada dalil meletakkn batu di dekae jenzah di liang lahat doa menguburkan jenazah jenazah yg sudah di liang lahat setelah 1 bulan doa setelah menguburkan jenazah doa dengar iringin pemberangkatan jenazah doa memasukan jenazah ke liang lahat menabur tanah setelah jenazah dimakamkan dalil menguburkan jewnazah dalil menguburkan jenazah pengertian lahad dan syaq hadist riwayat al baihaqi tentang menguburkan jenazah