Menikah dengan Anak Tiri Ayah Laki Laki

Tanya: Ayah saya menikah dgn seorang wanita yang memiliki anak perempuan yang masih menyusu. Setelah pernikahannya dgn ayah saya, wanita tersebut menyapih anak perempuannya. Ayah saya berkeinginan kelak bila anak perempuan tersebut telah besar, ia hendak menikahkan saya dengannya. Pertanyaannya, apakah hal tersebut dibolehkan bagi saya?
Jawab: Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t menjawab:
Boleh ia menikah dgn anak perempuan yang merupakan rabibah (anak tiri/anak istri) ayahnya tersebut. Boleh bagi anak laki-laki suami menikah dgn rabibah ayahnya.
Yang menjadi kaidah di sini, pernikahan yang diharamkan dlm hubungan mushaharah atau hubungan yang terjalin karena pernikahan seorang pria dgn seorang wanita adalah ushul & furu’1 istri bagi si suami secara khusus & tak bagi kerabat suami2. Demikian pula ushul & furu’ suami menjadi haram utk menikahi si istri secara khusus & tak haram utk menikahi kerabat si istri. Akan tetapi, tiga golongan darinya, diharamkan dgn semata-mata akad, sedangkan satu golongan lagi harus disertai dgn dukhul3, dgn perincian sebagai berikut:
- ushul suami haram bagi istri dgn akad
- furu’ suami haram bagi istri dgn akad
- ushul istri haram bagi suami dgn akad
- furu’ istri haram bagi suami dgn akad berikut dukhul.
Yang dimaksud ushul istri adalah ibunya, nenek-neneknya & terus ke atas. Sedangkan furu’-nya adalah putrinya, cucu-cucu perempuannya dari anak-anak laki-lakinya, & terus ke bawah. Sementara ushul suami adalah ayahnya, kakek-kakeknya & terus ke atas. Sedangkan furu’-nya adalah putranya, cucu-cucu laki-lakinya dari anak-anak laki-lakinya & terus ke bawah.
Untuk lebih memperjelas permasalahan ini, kita berikan contoh berikut ini:
Apabila seorang lelaki (sebutlah B, –pent.) menikah dgn seorang wanita yang bernama Zainab & si Zainab punya ibu bernama Asma`. Maka Asma` haram dinikahi oleh si B (menantunya/suami dari anak perempuannya) dgn semata-mata akadnya dgn Zainab, karena Asma` termasuk ushul Zainab.
Apabila Zainab ketika menikah dgn si B, sudah mempunyai anak perempuan bernama Fathimah, maka Fathimah haram dinikahi si B (suami ibunya) apabila si B/ayah tirinya tersebut telah dukhul dgn ibunya. Maksudnya, ayah tirinya telah “bergaul” dgn ibunya. Namun bila si ayah tiri menceraikan ibunya sebelum menggaulinya, maka Fathimah halal dinikahi oleh mantan ayah tirinya. Sedangkan Asma`, si nenek (ibu dari Zainab) tetap tak halal dinikahi.
Bila si B memiliki ayah bernama Abdullah & anak laki-laki bernama Abdurrahman, maka Abdullah haram menikah dgn menantunya (istri si B yaitu Zainab sebagaimana contoh di atas, pent.) dgn semata-mata akad (antara si menantu dgn B, putranya, tanpa persyaratan dukhul, pent.). Demikian pula yang berlaku bagi Abdurrahman. Ia haram menikah dgn istri ayahnya (Zainab) dgn semata-mata akad (antara si B ayahnya dgn Zainab/ibu tirinya, pent.). Namun boleh bagi Abdurrahman menikah dgn Fathimah putri Zainab, karena yang diharamkan bagi ushul & furu’ suami adalah si istri secara khusus, & tak haram bagi kerabat-kerabat istri.
Dan boleh bagi Abdullah, ayah si B, utk menikah dgn Asma`, mertua si B (ibu Zainab).
Yang menjadi dalil dlm hal ini adalah firman Allah k:

“Janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayah-ayah kalian (ibu tiri) kecuali pada masa yang telah lampau (sebelum datangnya larangan ini)….” (An-Nisa`: 22-23)
Pelarangan dlm ayat di atas ditujukan kepada furu’ suami, haram bagi si anak laki-laki utk menikahi istri ayahnya.
Firman Allah k:
“(Janganlah kalian menikahi) … ibu dari istri (mertua) kalian.”
Yang dimaukan di sini adalah ushul istri, haram dinikahi oleh si suami.
Firman Allah k:
“(Janganlah kalian menikahi)… putri-putri dari istri kalian yang berada dlm pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri. Tetapi jika kalian belum mencampuri istri tersebut (dan sudah berpisah dgn kalian) maka tak berdosa kalian menikahi putrinya.”
Yang ditujukan di sini adalah furu’ istri, haram dinikahi oleh si suami.
Sedangkan firman Allah k:
“Diharamkan pula bagi kalian menikahi istri-istri anak kandung kalian (menantu).”
Pelarangan ditujukan kepada ushul suami, haram bagi seorang ayah menikahi istri anaknya.
Boleh bagi seorang lelaki menikahi seorang wanita sementara ayah si laki-laki menikahi putri si wanita, karena furu’ istri hanya haram bagi suami, tak bagi kerabat suami. Dan boleh seorang lelaki menikahi seorang wanita, sementara ayahnya menikahi ibu si wanita. Wallahu a’lam bish-shawab. (Durus wa Fatawa fil Haramil Makki, hal. 1041-1042)

1 Ushul seseorang berarti orangtuanya ke atas, kakek neneknya, buyutnya & seterusnya. Sedangkan furu’ berarti keturunannya ke bawah, anaknya, cucunya, & seterusnya. –pent.
2 Maksudnya dgn terjalinnya sebuah pernikahan, haram bagi suami menikahi ushul & furu’ istrinya. Namun keharaman ini tak berlaku bagi kerabat si suami, artinya boleh bagi kerabat suami menikah dgn ushul & furu’-nya istri. –pent.
3 Sudah akad & sudah pula berjima’.
Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 039

cerita ngentot anak tiri cerita ngentot sama anak tiri ngentot dengan ibu tiri ngentot dengan ibu tiri cerita menantu ngentot dgn mertua com ngetut ayah mertua ngentot denganibu tiri cerita ngentot muslimah cerita ngentot ibu tiri ngentot dengan ibu tiri cerita ngentot dengan ayah tiri anak ml dengan ayah kandung kisah ngentot ibu tiri cerita ngentot dengan ibu tiri cerita ayah ngentot dengan anaknya