Khutbah Jum’at edisi 35

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. (آل عمران: 102)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. (النساء: 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. (الأحزاب: 70-71)
أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l di manapun kita berada. Baik ketika kita sedang bersama orang banyak maupun ketika sendirian. Dan marilah kita senantiasa takut akan terkena adzab-Nya, kapan & di mana pun kita berada. Karena kewajiban menjalankan perintah-perintah-Nya & menjauhi larangan-larangan-Nya bukan hanya pada waktu & saat-saat tertentu saja. Bahkan beribadah kepada-Nya adalah kewajiban yang harus dilakukan hingga ajal mendatangi kita. Allah l berfirman:
“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai kematian mendatangimu.” (Al-Hijr: 99)
Hadirin rahimakumullah,
Belum lama berlalu, kaum muslimin berada di bulan yang penuh barakah. Bulan yang kaum muslimin berpuasa di siang harinya & shalat tarawih di malam harinya. Bulan yang kaum muslimin mengisinya dgn berbagai amal ketaatan. Kini bulan itu telah berlalu. Dan akan menjadi saksi di hadapan Allah l atas segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang di bulan tersebut. Baik yang berupa amalan ketaatan maupun perbuatan maksiat. Maka sekarang tak ada lagi yang tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhir nanti. Allah l berfirman:
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati (pada catatan amalan) segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dgn hari itu ada masa yang jauh; & Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 30)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ibarat seorang pedagang yang baru selesai dari perniagaannya, tentu dia akan menghitung berapa keuntungan atau kerugiannya. Begitu pula yang semestinya dilakukan oleh orang yang beriman dgn hari akhir ketika keluar dari bulan Ramadhan. Bulan yang Allah l telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang berpuasa & shalat tarawih karena iman & mengharapkan balasan dari-Nya. Dan pada bulan tersebut, Allah l bebaskan orang-orang yang berhak mendapatkan siksa neraka sehingga benar-benar bebas darinya. Yaitu bagi mereka yang memanfaatkan bulan tersebut utk bertaubat kepada-Nya dgn taubat yang sebenar-benarnya.
Saudara-saudaraku seiman yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Oleh karena itu, orang yang mau berpikir tentu akan melihat pada dirinya. Apa yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan? Sudahkah dia memanfaatkannya utk bertaubat dgn sebenar-benarnya? Ataukah kemaksiatan yang dilakukan sebelum Ramadhan masih berlanjut meskipun bertemu dgn bulan yang penuh ampunan tersebut? Jika demikian halnya, dia terancam dgn sabda Rasulullah n:
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Dan rugilah orang yang bertemu dgn bulan Ramadhan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (HR. Ahmad & At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib)
Namun demikian bukan berarti sudah tak ada lagi kesempatan bagi dirinya utk memperbaiki diri. Karena kesempatan bertaubat tidaklah hanya di bulan Ramadhan. Bahkan selama ajal belum sampai ke tenggorokan, kesempatan masih terbuka lebar. Meskipun bukan berarti pula seseorang boleh menunda-nundanya. Bahkan semestinya dia segera melakukannya. Karena kematian bisa datang dgn tiba-tiba dlm waktu yang tak disangka-sangka. Dan seandainya seseorang mengetahui kapan datangnya kematian, maka harus dipahami pula bahwa taubat adalah pertolongan & taufiq dari Allah l. Sehingga tak bisa seseorang memastikan bahwa dirinya pasti akan bertaubat sebelum ajal mendatanginya. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi n sendiri, pada akhir hayatnya tak bisa bertaubat kepada Allah l. Padahal yang mengingatkannya adalah orang terbaik dari kalangan manusia, yaitu Rasulullah n. Namun ketika Allah l tak memberikan taufiq & pertolongan-Nya, maka tak akan ada seorang pun yang mampu memberikannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang segera bertaubat dari seluruh dosanya. Sehingga dia akan mendapat ampunan & menjadi orang yang tak lagi memiliki dosa. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanyalah akan menerima taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan karena ketidakhati-hatiannya & kemudian mereka bertaubat dgn segera, maka mereka itulah yang Allah terima taubatnya; & Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan sehingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’ Dan tak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dlm kekafiran. Bagi mereka itu telah Kami siapkan siksa yang pedih.” (An-Nisa`: 17-18)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Adapun orang yang telah memanfaatkan pertemuannya dgn Ramadhan utk bertaubat & mengisinya dgn berbagai amal shalih, maka seharusnya dia bersyukur kepada Allah l & memohon agar amalannya diterima serta memohon agar bisa istiqamah di atas amalan tersebut. Dan janganlah dirinya tertipu dgn banyaknya amalannya. Sehingga dia menyangka bahwa dirinya termasuk orang-orang yang paling baik & paling hebat. Bahkan dia harus senantiasa memohon ampun & beristighfar kepada Allah l. Karena seseorang tak bisa memastikan apakah amalan yang sudah dia lakukan diterima atau tidak. Seandainya diterima pun, sesungguhnya belum bisa utk membalas nikmat Allah l yang telah ia terima. Karena amalan yang dia lakukan benar-benar tak bisa lepas dari pertolongan Allah l. Maka sudah sepantasnya bagi dirinya utk senantiasa tawadhu’ & tak merasa paling baik. Bahkan semestinya dia memperbanyak menutup amalannya dgn beristighfar kepada Allah l. Karena begitulah sifat-sifat orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang sudah beramal dgn sebaik-baiknya namun masih merasa takut kepada Allah l akan kekurangan dirinya dlm beramal. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dgn hati yang takut (tidak akan diterima).  (Mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu`minun: 60)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa Allah l yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah yang kita ibadahi pula di luar bulan tersebut. Begitu pula rahmat Allah l tidaklah terputus & berhenti dgn berlalunya bulan Ramadhan. Maka doa yang senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah l di bulan tersebut janganlah kemudian kita tinggalkan di bulan berikutnya. Begitu pula membaca Al-Qur`an yang senantiasa kita lakukan di bulan Ramadhan, janganlah kita tinggalkan setelah berlalunya bulan tersebut. Bahkan ibadah puasa pun semestinya tetap kita lakukan meskipun di luar bulan tersebut. Karena masih sangat banyak puasa-puasa sunnah yang memiliki keutamaan yang besar bagi orang-orang yang menjalankannya. Begitu pula shalat malam, adalah amalan ibadah yang semestinya tak berhenti dgn berlalunya bulan Ramadhan, meskipun dilakukan hanya dgn beberapa rakaat saja. Karena menjaganya adalah salah satu sifat wali-wali Allah l. Sebagaimana tersebut dlm firman-Nya:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (untuk mengerjakan shalat malam) & mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dgn penuh rasa takut & harap, serta mereka menginfakkan dari sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajdah: 16)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Di antara tanda yang menunjukkan diterimanya amalan kita adalah berlanjutnya amalan tersebut pada waktu berikutnya. Karena amalan yang baik akan menarik amalan baik berikutnya. Maka marilah kita senantiasa menjaga amalan-amalan kita & janganlah kita kembali kepada perbuatan maksiat setelah kita bertaubat kepada Allah l. Ingatlah wahai saudara-saudaraku, bahwa di depan kita ada timbangan amalan yang akan menimbang amalan-amalan kita yang baik & amalan kita yang jelek. Allah l berfirman:
“Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dlm neraka Jahannam.” (Al-Mu`minun: 102-103)
Hadirin rahimakumullah,
Orang yang mengetahui betapa besarnya rahmat Allah l & betapa butuhnya dia terhadap rahmat tersebut tentu akan terus berusaha utk beramal shalih sampai ajal mendatanginya, sekecil apapun bentuknya. Selama dirinya mampu utk melakukannya, maka dia tak akan meremehkannya. Sebagaimana perbuatan maksiat, maka diapun akan meninggalkannya & tak menyepelekannya, sekecil apapun bentuknya. Karena Allah l berfirman:
“Dan kalian ucapkan dgn mulut-mulut kalian apa yang kalian tak berilmu tentangnya & kalian menganggapnya sebagai suatu yang sepele saja. Padahal hal itu di sisi Allah adalah sesuatu yang besar.” (An-Nur: 15)
Akhirnya kita memohon kepada Allah l agar menerima amalan-amalan kita & memberikan kekuatan kepada kita agar senantiasa mampu utk menjalankannya. Dan mudah-mudahan Allah l mengampuni seluruh kesalahan kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَنَا وَعَمَلَكُمْ وَجَعَلَهَا فِي مِيْزَانِ حَسَنَاتِنَا، إِنَّهُ وَلِيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ الْأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ، وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada Allah l. Dan marilah kita senantiasa memikirkan betapa cepatnya berlalunya malam & siang. Karena hal ini akan mengingatkan kita akan semakin dekatnya waktu perpindahan kita dari tempat beramal di alam dunia ini menuju saat pembalasan di akhirat nanti. Sehingga akan mendorong kita utk segera memanfaatkan kesempatan yang ada utk beramal shalih. Karena kesempatan hidup di dunia kalau tak digunakan utk ketaatan, maka kesempatan itu akan pergi dgn segera & akan berakhir dgn penyesalan serta kerugian pada hari kiamat. Adapun apabila digunakan kesempatan hidup kita di dunia dgn ketaatan, niscaya akan kita rasakan hasilnya. Karena amal shalih lah sesungguhnya kekayaan yang akan kita bawa utk hari akhir nanti. Adapun kekayaan yang berupa harta benda di dunia tidaklah bermanfaat kecuali kalau digunakan utk beramal di jalan Allah l. Maka apalah artinya kekayaan di dunia ini kalau akhirnya berujung dgn tak memiliki apa-apa bahkan mendapat siksa di akhirat nanti. Sementara kalau kita gunakan kesempatan ini utk beramal shalih maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang tak akan pernah berakhir. Bahkan berlanjut dari mulai di dunia ataupun setelah kita berpindah ke alam kubur sampai ketika saat hari kebangkitan & berikutnya akan mendapatkan kenikmatan yang selamanya di surga. Allah l berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dlm keadaan dia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang sangat membahagiakan & sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dgn pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Waktu yang telah berlalu tak akan kembali lagi. Namun akan datang waktu-waktu berikutnya yang akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan kita. Maka bagi seorang muslim, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Bahkan lebih berharga dari harta yang dimilikinya. Karena harta apabila hilang dari dirinya maka masih ada kesempatan utk dicari. Adapun waktu apabila telah berlalu maka tak akan bisa utk didapatkan lagi. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan hidup yang sangat sebentar ini dgn sebaik-baiknya. Janganlah amalan yang telah kita bangun pada bulan-bulan yang lalu kemudian kita robohkan lagi pada bulan berikutnya. Bahkan semestinya kita kokohkan dgn melanjutkan amalan tersebut pada bulan-bulan berikutnya. Dan janganlah kita mendekati setan setelah kita menjauhinya pada bulan Ramadhan yang lalu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di antara amal shalih yang sangat besar keutamaannya utk dilakukan setelah bulan Ramadhan, yaitu pada bulan Syawwal, adalah puasa sunnah selama enam hari pada bulan tersebut. Rasulullah n bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhan & kemudian dia mengikutkannya dgn puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka dia seperti orang yang berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya rahmat & kebaikan Allah l kepada hamba-hamba-Nya. Yaitu barangsiapa yang puasa selama enam hari baik secara berurutan ataupun berselang-seling, mulai hari kedua di bulan Syawwal, maka dia akan mendapat pahala orang yang puasa selama satu tahun. Tentu saja ini adalah keutamaan yang tak akan dilewatkan begitu saja oleh setiap muslim. Maka dia akan segera menunaikannya. Karena semakin cepat dilakukan maka akan semakin baik. Sebagaimana firman Allah l:
“Maka berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)
Namun keutamaan ini didapat bagi orang yang melakukannya setelah dia selesai menjalankan puasa Ramadhan baik dilakukan pada waktunya maupun di luar waktunya bagi yang memiliki hutang puasa. Untuk itu, semestinya orang yang memiliki hutang puasa segera membayarnya setelah hari raya Idul Fithri. Kemudian segera mengikutinya dgn puasa selama enam hari pada bulan tersebut.
Mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita utk selalu mendapatkan curahan rahmat-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ في كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ … اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 035

contoh khutbah shalat jumat pendek contoh khutbah jumat singkat tentang puasa contoh khutbah shalat jumat tentang akhlak contoh khutbah jumat singkat tentang puasa contoh khutbah jumat singkat tentang puasa khutbah akhlak mulia kotbah akhlak contoh khutbah jumat singkat tentang puasa contoh khutbah singkat ramadhan contoh khutbah jumat singkat tentang puasa contoh khutbah jumat tentang keutamaan berpuasa khutbah jumat singkat ceramah singkat khutbah jumat khotbah jumat singkat yang benar khutbah jumat singkat