Kejahilan Penyakit Kronis yang Tercela Penyakit Kronis

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)
 
Mungkin akan muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud dgn penyakit kronis dlm pembahasan akhlak kali ini? Sudah mafhum, dlm tinjauan medis, penyakit kronis adalah penyakit menahun yang tak kunjung sembuh atau bahkan sulit tertolong lagi melainkan hanya menunggu detik-detik ajal datang menjemput, kecuali Allah l menghendaki yang lain.
 
Pada taraf ini, setiap orang atau keluarga yang sakit, umumnya tak akan berpikir panjang, apapun akan dikorbankan menuju kesembuhan. Namun penyakit kronis apapun, tetaplah suatu penyakit yang masih bisa dideteksi ahlinya.
Tentu kita akan bertanya-bertanya pada diri kita, penyakit kronis apakah yang mengancam keselamatan seluruh jenis manusia namun susah sekali dideteksi itu? Terlebih, keselamatan bila terbebaskan dari penyakit ini bukan tanggung-tanggung yaitu keselamatan dunia & akhirat?
Namun demikianlah, tabiat manusia menyukai sesuatu yang bersifat menguntungkan sementara & keselamatan yang bersifat semu serta melupakan yang hakiki. Itulah sifat kelalaian & lupa yang selalu melekat pada setiap insani kecuali yang dirahmati oleh Allah l.
“Sesungguhnya orang-orang yang tak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dgn kami, & merasa puas dgn kehidupan dunia serta merasa tenteram dgn kehidupan itu & orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami.” (Yunus: 7)
“Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu & sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (Yunus: 92)
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)
Dan Allah l telah mengajarkan kepada kita sebuah sikap dlm bergaul bersama mereka sebagaimana dlm firman-Nya:
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan kami, & tak menginginkan kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya & Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (An-Najm: 29-30)
Al-Imam Al-Qurthubi t di dlm tafsirnya menjelaskan: “Mereka berilmu tentang urusan dunia mereka namun jahil tentang urusan akhirat mereka. Al-Farra` berkata: ‘Allah merendahkan & menghinakan mereka. Itulah batas akal mereka, mereka mengutamakan kehidupan dunia dari kehidupan akhirat’.”
Ibnu Katsir t menyatakan: “Mencari dunia & berusaha untuknya merupakan puncak tujuan pencarian mereka. Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad t dari Ummul Mukminin ‘Aisyah x bahwa Rasulullah n berkata: ‘Dunia merupakan negeri orang yang tak memiliki negeri & harta bagi orang yang tak memilikinya serta yang akan berusaha mengumpulkannya adalah orang yang tak memiliki akal’.”
Penyakit kronis dlm pembahasan kali ini amat sangat terkait dgn agama & keselamatan seseorang di dunia & di akhirat. Sekali lagi, tahukah anda penyakit kronis apakah itu?
Itulah penyakit kejahilan (kebodohan), yang merupakan akhlak tercela serta akhlak orang-orang yang hina.
 
Kejahilan adalah Penyakit yang Berbahaya
Sedikit sekali orang mengetahui bahwa kejahilan adalah sebuah penyakit yang lebih berbahaya dari segala penyakit kronis. Bahkan bukan sesuatu yang aneh lagi, orang yang dijangkiti penyakit ini tak merasa kalau dirinya sakit. Justru yang terjadi adalah mengklaim diri sebagai orang yang sehat segala-galanya. Seseorang yang tertimpa penyakit kronis hanya merasakannya di dunia. Namun penyakit kejahilan akan dirasakan pedihnya di dunia & di akhirat.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan utk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin & manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tak dipergunakannya utk memahami (ayat-ayat Allah), & mereka mempunyai mata (tetapi) tak dipergunakannya utk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), & mereka mempunyai telinga (tetapi) tak dipergunakannya utk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)
Dengan kejahilan, seseorang akan terjatuh dlm perbuatan dosa yang tak diampuni oleh Allah l, perbuatan kedzaliman yang paling besar, yang akan mengharamkan masuk ke dlm surga serta mengekalkan di neraka. Perbuatan yang akan menghalalkan darah, kehormatan, & harta pelakunya. Itulah perbuatan menyekutukan Allah l alias syirik.
Al-Imam Al-Albani t ketika menjelaskan tentang menggantung jimat menyatakan: “Dan terus berkesinambungan kesesatan ini, tersebar baik di tengah orang-orang yang tinggal di pegunungan, para petani, maupun sebagian orang yang tinggal di perkotaan. Termasuk dlm kategori jimat adalah kharazat yang diletakkan oleh para sopir di bagian depan mobil mereka yang digantung di atas spion (tengah). Sebagian mereka menggantung sandal yang telah usang di depan atau di belakang mobil mereka. Yang lain menggantungkan sepatu kuda di depan rumah atau toko. Semuanya mereka jadikan sebagai tameng dari kejahatan mata yang jahat –menurut sangkaan mereka– & selainnya (dari bentuk-bentuk kesyirikan). Semuanya telah tersebar & menjadi musibah besar, disebabkan kejahilan tentang tauhid & apa yang dinafikannya berupa segala bentuk kesyirikan & berhalaisme. Yang tidaklah para rasul diutus & kitab-kitab diturunkan melainkan utk membatalkan segala kesyirikan itu serta menghakiminya. Kepada Allah l sajalah kita mengadu akan kejahilan kaum muslimin & jauhnya mereka dari agama mereka.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1/890, no. 492)
Kejahilan juga akan menjatuhkan ke dlm amalan yang paling disukai iblis setelah syirik, yakni perbuatan mengada-ada dlm syariat alias bid’ah, serta segala bentuk penyimpangan syariat lainnya. Hingga seseorang akan menolak kebenaran yang datang dari Allah l & Rasul-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t menyatakan: “Tidaklah engkau menemukan seseorang terjatuh dlm kebid’ahan melainkan karena kurangnya mereka dlm berpegang dgn As-Sunnah, baik ilmu maupun amal. Dan barangsiapa berilmu tentang As-Sunnah lalu mengikutinya, maka tak terdapat pendorong pada dirinya utk melakukan kebid’ahan. Maka orang yang jahil tentang As-Sunnah akan terjatuh pada kebid’ahan.” (Syarah Hadits Laa Yazni Az-Zani hal. 35)
Demikianlah orang jahil. Kejahilannya akan menjadi malapetaka dahsyat yang menghampirinya. Kesulitan hidup menjadi terbuka di hadapannya. Kesempurnaan manusia akan menghilang di benaknya sehingga segala gerak-geriknya dikendalikan oleh hawa nafsu. Sungguh betapa malang nasib hidupnya.
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dgn segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; & Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa`: 17)
Ibnu Katsir t menjelaskan: “Mujahid & selain beliau mengatakan: ‘Barangsiapa bermaksiat kepada Allah l baik karena tersalah atau sengaja maka dia adalah orang jahil, hingga dia mencabut diri dari dosa tersebut’.”
Qatadah t berkata dari Abul ‘Aliyah bahwa dia bercerita bahwa seluruh sahabat nabi g berkata: ‘Segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba adalah karena kejahilan.’
Abdurrazzaq t berkata: Ma’mar menyampaikan kepada kami dari Qatadah, dia berkata: ‘Para sahabat Rasulullah n telah bersepakat bahwa segala sesuatu yang Allah l dimaksiati dengannya, maka itu dilandasi kejahilan baik disengaja ataupun tidak.’
Abu Shalih t meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas c bahwa dia berkata: ‘Barangsiapa jahil tentang sesuatu maka dia akan melakukan kejahatan.’ (Tafsir Ibnu Katsir dgn ringkas 1/572)
Ibnul Qayyim  t berkata: “Sesungguhnya kesempurnaan hidup manusia berkisar pada dua poros, yaitu mengetahui kebenaran dari kebatilan & mengutamakan kebenaran dari selainnya. Tidaklah terjadi perbedaan kedudukan seorang hamba di hadapan Allah l melainkan perbedaan mereka dlm dua fondasi ini. Dengan kedua hal inilah, Allah l memuji para nabi-Nya di dlm sebuah firman-Nya.
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, & Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar & ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)
أُولِي الْأَيْدِي artinya kekuatan dlm menerapkan kebenaran. الْأَبْصَارِ artinya ilmu tentang agama. Allah l menyifati mereka dgn kesempurnaan pengetahuan mereka tentang kebenaran & kesempurnaan penerapan mereka dengannya.” (Al-Jawabul Kafi hal. 139)
Al-Imam Ahmad l berkata: “Sesungguhnya seseorang melakukan penyelisihan karena sedikitnya pengetahuan mereka tentang segala apa yang datang dari Rasulullah n.” (I’lamul Muwaqqi’in, 1/44)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Kebenaran banyak hilang di tengah orang-orang yang jahil lagi ummi (tidak pandai membaca & menulis).” (Majmu’ Fatawa 25/129)
Ibnul Qayyim n berkata: “Sebab tertolaknya kebenaran banyak sekali. Di antaranya adalah kejahilan, & inilah sebab yang mendominasi pada kebanyakan orang. Karena barangsiapa jahil terhadap sesuatu niscaya dia akan menentangnya & menentang pemeluknya.” (Hidayatul Hayara Fi Ajwibati Al-Yahudi wan Nashara hal. 18)
Setelah ini, tidakkah anda menganggap bahwa kejahilan adalah sebuah penyakit yang kronis & berbahaya? Tidakkah cukup sebagai bukti bahwa terjatuhnya seseorang pada kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan, & segala bentuk penyelisihan terhadap syariat merupakah akibat dari kejahilan? Bahkan sekte Rafidhah, yang dicetuskan oleh seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam di masa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z, Abdullah bin Saba` Al-Yahudi, di mana mazhab yang diusungnya adalah mazhab paling jahat & paling sesat yang muncul & bisa berkembang pesat di tengah kaum muslimin, juga disebabkan kejahilan. Hal ini telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t: “Sesungguhnya yang mencetuskan mazhab Rafidhah adalah seorang zindiq (munafik), mulhid (menyeleweng), musuh Islam & kaum muslimin. Dan dia, Abdullah bin Saba`, tak termasuk ahli bid’ah1 yang melakukan penakwilan sebagaimana golongan Khawarij & Qadariyyah, sekalipun doktrin-doktrinnya berkembang pesat di tengah kaum yang memiliki iman namun terkuasai oleh kejahilan mereka.” (Minhaj As-Sunnah 4/363)
Penyakit kronis ini butuh obat yang ampuh & mujarab, di mana tak akan didapati obatnya melalui pemeriksaan medis di belahan dunia manapun.
 
Obat Penyakit Kronis Kejahilan
Seseorang yang mengerti sedikit ilmu agama niscaya akan mengetahui obat yang manjur bagi penyakit kronis yang sangat berbahaya tersebut. Itulah ilmu agama yang bersumberkan Al-Qur`an & Sunnah Rasulullah n yang dipahami dgn pemahaman Salafus Shalih. Ilmu yang akan memperbaiki hubungan lahiriah & batiniah dgn Allah l. Ilmu yang akan membimbing ke jalan yang diridhai Allah l serta menjauhi amalan-amalan yang dimurkai-Nya. Ilmu yang akan membimbing kepada jalan yang benar serta yang akan menjauhkan dari jalan yang batil. Ilmu yang akan membuahkan rasa takut kepada Allah l sehingga mencegah dirinya utk bermaksiat kepada-Nya.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menjelaskan: “Ilmu adalah mengenal Allah l, mengenal Nabi-Nya, & mengenal agama-Nya dgn dalil-dalil.” (Tsalatsatul Ushul karya beliau)
Ibnul Qayyim t berkata: “Ilmu adalah firman Allah l, sabda Rasulullah n, & ucapan para sahabat g.”
Al-Auza’i t berkata: “Ilmu adalah apa yang diajarkan oleh para sahabat Muhammad n. Maka yang selainnya tidaklah dikatakan ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar t, 2/29)
Demikian juga yang diucapkan oleh Al-Imam Ahmad t. (Fadhlu Ilmis Salaf ‘alal Khalaf hal. 42)
Al-Junaidi t berkata: “Ilmu kita adalah terikat dgn Al-Kitab & As-Sunnah. Dan orang yang tak membaca Al-Qur`an & Al-Hadits maka tak bisa dijadikan panutan dlm ilmu kami.” (idem, hal. 44)
Ibnu Mas’ud z & selain beliau berkata: “Cukuplah rasa takut kepada Allah l sebagai ilmu & cukuplah ketertipuan sebagai kejahilan.”2
Sebagian ulama salaf berkata: “Ilmu bukan karena banyak meriwayatkan, akan tetapi ilmu adalah yang akan mendatangkan rasa takut.”
Sebagian mereka menegaskan: “Barangsiapa takut kepada Allah l maka dia adalah orang ‘alim & barangsiapa bermaksiat maka dia adalah orang jahil.” (idem, hal. 47)
As-Sa’di t menjelaskan dlm sebuah manzhumah-nya: “Ketahuilah –semoga Allah l memberimu hidayah– bahwa seutama-utama pemberian adalah ilmu yang akan menghilangkan keraguan (yaitu syubhat) & kekotoran (yaitu syahwat). Ilmu yang akan membuka tabir kebenaran bagi yang berakal, & ilmu yang akan menyampaikan kepada apa yang dicari.”
Kesimpulan kita bahwa ilmu adalah pohon yang akan membuahkan ucapan yang baik & amal shalih. Sebaliknya, kejahilan adalah pohon yang membuahkan ucapan & perbuatan yang jelek. (Risalah Qawa’id Fiqhiyyah karya As-Sa’di t hal. 12-13)
Rasulullah n bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya Allah akan memberikan kefaqihan dlm agama.” (HR. Al-Bukhari & Muslim dari sahabat Mu’awiyah z)
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلىَ الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh jalan dlm rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah z)
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ
“Tiadalah suatu kaum berkumpul di rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Kitab (Al-Qur`an) & mengkajinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat & Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan orang-orang yang ada di sisi-Nya .” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah z)
 
Dalil-dalil yang Mengecam Kejahilan
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, & gunung-gunung, maka semuanya enggan utk memikul amanat itu & mereka khawatir akan mengkhianatinya, & dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim & amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
“Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: ‘Hai Musa, buatkanlah utk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan (berhala).’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil yang tak mengetahui (sifat-sifat Allah)’.” (Al-A’raf: 138)
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki utk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang bodoh (akibat perbuatanmu).” (An-Naml: 55)
“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruh Aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tak berpengetahuan?’.” (Az-Zumar: 64)
“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri. Mereka menyangka yang tak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dlm urusan ini?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dlm hati mereka apa yang tak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dlm urusan ini, niscaya kita tak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’ Katakanlah: ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) utk menguji apa yang ada dlm dadamu serta utk membersihkan apa yang ada dlm hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali ‘Imran: 154)
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dgn sujud & berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat & mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dgn orang-orang yang tak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنَّ اللهَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ اللهُ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًَا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tak akan mencabut ilmu dgn mencabutnya dari hamba-hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dgn mencabut nyawa para ulama. Sehingga bila Allah tak lagi menyisakan seorang pun dari mereka, lalu orang-orang mengangkat pemimpinnya dari orang jahil kemudian mereka bertanya kepadanya, & mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sesat lagi menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari & Muslim dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash c)
 
Akibat bila Terjangkiti Penyakit Kejahilan
1. Bila Dia Seorang Da’i
Tidak ada yang memungkiri bahwa kedudukan seorang da’i di sisi Allah l adalah sangat tinggi. Bahkan Allah l & Rasul-Nya telah memuji mereka di dlm banyak dalil, sebagaimana dlm firman-Nya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, & berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’.” (Fushshilat: 33)
“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku & orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dgn hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, & aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf & mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)
Rasulullah n bersabda:
وَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, seseorang mendapatkan hidayah dari Allah karenamu maka itu lebih baik daripada kamu memiliki unta-unta merah.” (HR. Al-Bukhari & Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d As-Sa’idi z)
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 2674 dari sahabat Abu Hurairah z)
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti yang mengamalkannya.” (HR. Muslim no. 1493 dari sahabat Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Anshari Al-Badri z)
Bukanlah suatu keanehan jika seorang da’i mendapatkan martabat seperti ini, karena mereka adalah pewaris tugas para nabi. Dan kita mengetahui bahwa tugas mereka adalah berdakwah di jalan Allah l. Oleh karena itu, seseorang dituntut agar bersemangat dlm memikul amanat ini utk mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah l. Bersamaan dgn realita umat ini yang sangat butuh kepada da’i-da’i yang shalihin, nashihin, & penuh kasih sayang. Selain itu, juga dgn adanya peperangan yang dikobarkan musuh Islam terhadap pemikiran umat ini, aqidah & akhlaknya, yang puncaknya mereka terpenjarakan dlm fitnah syahwat & syubhat.
Kita telah diajarkan oleh agama bahwa berdakwah adalah sebuah amanat besar & sebuah tanggung jawab. Tidak hanya di dunia, namun juga sebuah tanggung jawab di akhirat. Seorang da’i akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah l, ke mana dia mengajak umat. Dan utk menyelamatkan diri dari tanggung jawab ini, Allah l mensyaratkan agar berdakwah dilakukan di atas ilmu. Berdakwah di atas ilmu merupakan jalan Rasulullah n & para pengikut beliau, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah l di dlm firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku & orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dgn hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)
Dari sini kita mengetahui bahwa orang-orang yang tak berilmu tentang syariat tak diperbolehkan baginya memosisikan diri sebagai penerus tugas para nabi, terlebih dikenai perintah utk berdakwah. Karena bila salah menyampaikan atau menyesatkan orang lain, ancamannya sangat besar. Rasulullah n bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 2674 dari sahabat Abu Hurairah z)
 
2. Bila dia seorang pemimpin
Amat bisa dibayangkan jika seorang pemimpin berasal dari orang yang jahil tentang agama. Segala sepak terjangnya akan dibangun di atas kejahilan. Yang tergambar adalah sebuah bentuk kedzaliman, pemerkosaan hak rakyatnya, bahkan akan memperkosa agama & kaum muslimin, lagi sesat menyesatkan.
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنَّ اللهَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ اللهُ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًَا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tak akan mencabut ilmu dgn mencabutnya dari hamba-hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dgn mencabut nyawa para ulama. Sehingga bila Allah tak lagi menyisakan seorangpun dari mereka, lalu orang-orang mengangkat pemimpinnya dari orang jahil kemudian mereka bertanya kepadanya, & mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sesat lagi menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari & Muslim dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash c)
3. Bila dia seorang biasa
Jika kejahilan merupakan sebuah akhlak yang tercela, yang akan merusak jati diri seorang da’i & seorang pemimpin, apatah lagi jika akhlak ini disandang oleh seseorang yang awam tentang agama. Tentu akan semakin rusak & jahat. Dia akan dijangkiti oleh penyakit kronis lainnya seperti taqlid buta, fanatisme, lancang, menolak kebenaran, membela kebatilan & berkubang padanya, memusuhi kebenaran & pelakunya, iri hati, dengki, sombong & berbagai sifat berbahaya lainnya.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Dan barangsiapa ridha dgn kebid’ahannya, tak mau mencari dalil-dalil syariat & tak mau mencari ilmu yang akan bisa memisahkan antara haq & batil, serta tak mau membelanya, menolak apa yang datang dari Al-Qur`an & As-Sunnah, dibarengi kejahilan & kesesatan serta berkeyakinan bahwa dirinya berada di atas kebenaran, maka orang seperti ini termasuk orang dzalim & fasik. (Derajat kedzaliman & kefasikannya) sesuai dgn kewajiban-kewajiban yang dia tinggalkan & keberanian dirinya melaksanakan keharaman-keharaman Allah l.” (Irsyad Ulil Basha`ir wal Albab hal. 300)
 
Hindarilah Penyakit Kejahilan!
Asy-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr berkata: “Ilmu merupakan pokok pangkal segala kebaikan. Sedangkan kejahilan merupakan pokok pangkal segala kejelekan. Cinta kepada kedzaliman, permusuhan, melakukan kekejian & melanggar larangan-larangan, sebabnya yang pertama adalah kejahilan serta rusaknya ilmu atau rusaknya niat. Dan rusaknya niat disebabkan karena rusaknya ilmu. Kejahilan & rusaknya ilmu merupakan sebab pertama dlm kerusakan amal & berkurangnya iman… Nafsu selalu mendorong utk melakukan sesuatu yang mendatangkan mudarat & tak bermanfaat, karena kejahilannya tentang sesuatu yang membahayakannya. Oleh karena itu, barangsiapa mendalami Al-Qur`an maka dia akan menemukan isyarat yang besar bahwa kejahilan merupakan sebab segala dosa & kemaksiatan.” (Asbab Ziyadatil Iman hal. 62)
Beliau juga menjelaskan: “Jahil tentang Allah l adalah penyakit yang berbahaya & membinasakan yang akan menggiring pemiliknya menuju kecelakaan & adzab yang besar. Barangsiapa yang penyakit ini mengakar pada dirinya & menguasainya, jangan engkau bertanya tentang kebinasaannya (yakni pasti akan binasa). Dia akan berkubang dlm kemaksiatan & dosa, terjungkir balik dari jalan Allah l yang lurus, pasrah dlm seruan syubhat & syahwat. Kecuali bila dia dijemput oleh rahmat Allah l dgn siraman hati & cahaya penglihatan. Itulah kunci kebaikan, yaitu ilmu yang bermanfaat yang akan membuahkan amal shalih. Sebab, tak ada obat terhadap penyakit itu melainkan ilmu. Dan seseorang tak akan terlepas dari penyakit ini melainkan bila Allah l mengajarkan kepadanya ilmu yang bermanfaat & memberikan bimbingan kepadanya. Barangsiapa yang Allah l menginginkan kebaikan kepadanya, Dia akan mengajarkannya ilmu yang bermanfaat & memberikan kedalaman tentang agama serta memperlihatkan kepadanya segala yang akan menjadikan dia bahagia & bergembira, kemudian dia keluar dari kubangan kejahilan. Dan kapan saja Allah l tak menginginkan kebaikan untuknya, maka Allah l akan menetapkan dia di atas kejahilan. Kepada Allah l sajalah kita meminta agar Dia menyirami hati kita dgn ilmu & iman, serta melindungi kita dari kejahilan & permusuhan.” (idem hal. 64)
Wallahu a’lam.

1 Karena dia telah kafir.
2 Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad t di dlm kitab Az-Zuhd (no. 158) & Ath-Thabarani t di dlm Al-Kabir (9/211) namun terdapat kelemahan, serta pada sanadnya ada inqitha` (keterputusan). Lihat ta’liq & tahqiq Risalah Fadhlu ‘Ilmi As-Salaf hal. 46)

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 035