Kehidupan Setelah Kematian Di Alam Kubur

Setiap jiwa niscaya akan merasakan sebuah fase bernama kematian. Tak ada yang mengingkari hal itu termasuk kalangan atheis sekalipun. Namun yang namanya keimanan tak mandeg sebatas ini saja. Telah menjadi perkara mendasar dlm Islam, yakni keyakinan adanya alam setelah kematian, yakni alam barzakh, atau lazim disebut alam kubur.
Kematian, dlm pandangan Islam, bukanlah ujung dari segala kehidupan makhluk. Syariat telah demikian gamblang menerangkan bahwasanya masih ada alam lain (alam barzakh kemudian alam akhirat) yang akan dilalui manusia pascakematian. Maka, membincangkan alam kubur, jelas erat kaitannya dgn akidah. Karena alam kubur adalah bagian dari hal ghaib yang tak semua orang (termasuk sebagian umat Islam) mau meyakininya.
Nyatanya, masih saja ada yang berlogika utk mementahkan perkara akidah ini. Seakan-akan segala hal bisa dilihat dari kacamata logika mereka. Sebagian lagi menolak dgn merangkum beragam syubhat (keraguan) yang kesudahannya adalah menolak hadits-hadits yang menerangkan tentang berbagai peristiwa di alam kubur.
Melogikakan alam kubur & beragam peristiwa yang terjadi di dalamnya tentu saja hanya akan menimbulkan erosi akidah, yang ujung-ujungnya kita bisa meragukan bahkan menghampakan eksistensi Allah l sebagai Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Islam telah menggarisbawahi dgn tebal bahwa keimanan bukanlah atas dasar selera manusia sehingga ia bisa bebas memilih sekehendak hati. Di mana ia hanya mau menerima hal-hal yang masuk akal & menolak hal-hal yang bertentangan dgn akal. Ia hanya mengimani hal-hal yang bisa diendus oleh panca indera sementara yang ghaib justru dia kufuri. Demikian juga dia hanya mau mempraktikkan syariat yang dianggapnya ringan sementara syariat yang (dalam anggapannya) berat –meski hukumnya wajib– justru ia tinggalkan.
Hakikat keimanan dlm Islam, adalah pembenaran secara total terhadap segala kabar yang diberitakan Al-Qur’an & As-Sunnah Ash-Shahihah yang kemudian mewujud dlm praktik anggota tubuh, berupa ucapan maupun perbuatan.
Sehingga bukan keimanan namanya jika ber-Islam hanya atas dasar eling (ingat) atau yang di kalangan sufi diistilahkan dgn tahap ma’rifat. Disamping itu, jika setiap makhluk bisa menginderai hal-hal ghaib niscaya keimanan itu menjadi tiada harganya. Karena selain perkara itu bukan lagi merupakan hal ghaib, maka menjadi tak terbedakan lagi antara mukmin & orang kafir. Karena semua orang dgn mudah akan mengimani itu semua.
Bagaimanapun, dunia dlm pandangan Islam, hanyalah panggung ujian yang akan dinilai nantinya. Tidak mungkin ada dua orang, yang satu jahat sementara yang lain shalih, tatkala mati kemudian sama-sama selesai begitu saja. Tak ada balasan kejelekan atau hukuman & tak ada balasan kebaikan atau pahala.
Tegasnya, tak ada tawar-menawar dlm setiap perkara yang memang telah digariskan syariat. Setiap muslim seyogianya terus menyempurnakan keimanan yang telah terpatri dlm sanubarinya, salah satunya dgn mengimani adanya kehidupan setelah kematian.

 

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 051

ceritasesudahhidup cerita sesudah meninggal kehidupan setelah mati menurut islam kisah kehidupan setelah meninggal dalam islam cerita hidup sesudah mati setelah meninggal dalam islam hakikat kematian dalam islam blogsoto.com/ kehidupan- setelah- kematian- di- alam- kubur- 270.htm blogsoto.com/ kehidupan- setelah- kematian- di- alam- kubur- 270.htm cerita islami dalam kematian hidup setelah mati menurut islam fase fase kematian menurut pandangan islam cerita islam setelah meninggal tentang kematian menurut islam alam setelah kematian dalam islam