Kebenaran Hanya datang dari Allah Nama Nama Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)
 
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Maka tak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)
Penjelasan Mufradat Ayat
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya”
Ayat ini menyebutkan tiga dari nama Allah U, yaitu (nama) Allah yang mengandung sifat uluhiyyah bagi-Nya, Ar-Rabb yang mengandung sifat Rububiyyah baginya, & Al-Haq yang mengandung sifat kebenaran tentang wujud-Nya, kebenaran tentang firman-Nya, syariat-Nya, & seluruh janji-Nya. Allah telah memberi nama dirinya dgn “Al-Haq” dlm berbagai tempat dlm Al Qur`an, seperti firman-Nya:
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq & sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati & sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Haj: 6)
“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang haq; tak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mukminun: 116)
Disebutkan dlm Shahih Al-Bukhari dari hadits Abdullah bin Abbas c bahwa Rasulullah r bersabda:
“Engkau adalah Al-Haq & perkataan-Mu haq.”
Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t memasukkan Al-Haq di antara nama-nama Allah. (lihat Al-Qawa’idul Mutsla: 21)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Al-Haq pada dzat & sifat-Nya. Sehingga Dia adalah wajibul wujud (keberadaan-Nya adalah wajib), sempurna sifat-Nya, wujud-Nya adalah kelaziman dzat-Nya, & tak terwujud segala sesuatu kecuali dengan-Nya. Dialah yang senantiasa memiliki sifat keagungan, keindahan, kesempurnaan, & senantiasa berbuat kebaikan. Firman-Nya adalah haq, perbuatannya haq, pertemuan dengan-Nya adalah haq, para Rasul-Nya adalah haq, kitab-kitab-Nya adalah haq, agamanya haq, beribadah hanya kepadanya adalah haq, & segala sesuatu yang dinisbahkan kepadanya adalah haq.” (lihat Shifatullah, tulisan As-Saqqaf hal. 120)
Kata Adh-Dhalal () atau Adh-Dhalalah () maknanya adalah lawan dari Al-Huda (petunjuk). (Al-Qamus hal. 1024)
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Adh-Dhalal (kesesatan) hakekatnya adalah menjauh dari kebenaran. Ibnu ‘Arafah berkata: Adh-Dhalalah (kesesatan) di kalangan Arab maknanya adalah menempuh selain jalan yang lurus.” (Tafsir Al-Qurthubi secara ringkas, 8/337)
Terkadang Adh-Dhalal juga diungkapkan atas seseorang yang tak mengenal Allah U yang disertai kelalaian, walaupun keadaan orang tersebut tak diliputi kejahilan atau keraguan. Atas penafsiran ini, sebagian para ulama memahami firman Allah U:
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang lalai, lalu Dia memberikan petunjuk.” (Adh-Dhuha: 7)
Yaitu “lalai” menurut salah satu penafsiran (yaitu dgn makna tak mengenal Allah U, red). Dan ini dikuatkan dgn firman-Nya:
“Dahulu engkau tak mengetahui apa itu kitab & apa itu iman.” (Asy-Syura: 52)
Termasuk pula dlm pengertian ini apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdil Hakam & Asyhab dari Al-Imam Malik t tentang ayat ini, di mana beliau mengatakan: “Bermain catur & dadu termasuk dari Adh-Dhalal (kelalaian).” (Tafsir Al-Qurthubi, 8/337)
Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t berkata: “Maka itulah Rabbmu, yaitu yang diibadahi, yang disembah, yang dipuji, yang mendidik seluruh makhluk dgn berbagai kenikmatan-Nya. Dialah Al-Haq, maka tak ada lagi setelah Al-Haq melainkan kesesatan. Karena Dia-lah yang bersendiri dlm mencipta, mengurusi segala sesuatu. Tidak seorang hamba pun yang merasakan satu kenikmatan melainkan berasal dari-Nya, & tak ada yang mendatangkan kebaikan melainkan Dia, tak ada yang menolak kejelekan kecuali Dia. Dia memiliki Asma`ul Husna & sifat-sifat yang maha sempurna yang agung, penuh kemuliaan & kesempurnaan. Lalu mengapa kalian berpaling dari beribadah kepada yang demikian sifat-sifat-Nya (yakni berpaling dari Allah)? Lalu menyembah sesuatu yang wujudnya akan sirna, tak mampu mendatangkan manfaat & mudharat serta tak pula mampu mendatangkan kematian, kehidupan, & kebangkitan? Dia tak memiliki kekuasaan sedikitpun & tak ada sekutu bagi Allah dlm hal apapun. Tidak ada yang berhak memberi syafaat di sisi Allah U melainkan dgn izin-Nya. Maka celakalah bagi yang menyekutukan-Nya & binasalah bagi yang kafir terhadap-Nya. Telah hilang akal mereka setelah hilangnya agama mereka, bahkan mereka telah kehilangan dunia & akhirat. Oleh karena hal itu Allah U berfirman tentang mereka:
‘Demikianlah telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang yang fasiq, karena sesungguhnya mereka tak beriman.’ (Yunus: 33).” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 363)
Kebenaran Hanyalah Satu & Tidak Berbilang
Ayat Allah U yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa jalan kebenaran hanyalah satu & tak ada lagi selain dari jalan tersebut melainkan kesesatan & penyimpangan dari Al-Haq. Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Ayat ini memberikan hukum bahwa tak terdapat kedudukan yang ketiga antara Al-Haq & bathil dlm masalah ini yaitu dlm mentauhidkan Allah U. Demikian pula dlm perkara-perkara yang serupa dengannya, yaitu masalah ushul (prinsip-prinsip agama, red.) yang mana kebenaran hanya ada di satu pihak.” (Tafsir Al-Qurthubi, 8/336)
Jika demikian keadaannya, maka hendaklah seorang muslim selalu berusaha utk mencari jalan keselamatan tersebut yang jumlahnya hanya satu. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah r dlm beberapa haditsnya. Di antaranya adalah yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud z, ia berkata:
Rasulullah r membuat sebuah garis di hadapan kami satu garis lalu berkata: “Ini adalah jalan Allah.” Lalu beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan & sebelah kiri garis tadi lalu berkata: “Ini adalah jalan-jalan. Di atas setiap jalan itu terdapat setan yang menyeru kepadanya.” Lalu beliau membaca firman Allah: “Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah. Dan janganlah mengikuti jalan-jalan (sesat) hingga akan terpisah kalian dari jalan-Nya.1”  (HR. Al-Imam Ahmad, 1/435 & 465, An-Nasa`i dlm Al-Kubra, 6/11174, Ad-Darimi no. 202, Ath-Thayalisi no. 244, Sa’id bin Manshur, 5/935, Ibnu Hibban, 1/180/6, & Al-Hakim, 2/348, seluruhnya dari Abdullah bin Mas’ud z. Al-Hakim berkata: “Hadits ini sanadnya shahih.” Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dlm tahqiq Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 525)
Dalam hadits ini,  ketika menyebutkan jalan Allah, Rasulullah r menyebutkan dgn lafadz mufrad (tunggal). Namun ketika menyebutkan kesesatan, beliau menyebutkannya dlm bentuk jamak, yang menunjukkan banyaknya jalan-jalan kesesatan & banyaknya jumlah para pengikut setan yang menghalangi manusia utk berjalan di atas jalan Allah U. Allah U berfirman:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, & mereka tak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al-An’am: 116)
Demikian pula yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash c bahwa Rasulullah r bersabda:
“…Umatku akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya dlm neraka kecuali satu golongan.” Beliau ditanya: “Siapakah yang satu itu?” Beliau menjawab: “Apa-apa yang aku & para shahabatku berada di atasnya.” (HR. At-Tirmidzi, 5/2641, Al-Hakim, 1/218. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dlm Shahih At-Tirmidzi)
Hadits tentang perpecahan ini telah diriwayatkan dari beberapa shahabat Nabi r dlm kitab-kitab sunnah, di antaranya Anas bin Malik, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzani g. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa 72 yang masuk jannah (surga) & satunya masuk an-naar (neraka) adalah hadits yang palsu. (lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, Al-Albani t, 3/1035)
Namun anehnya riwayat ini justru dishahihkan oleh ahlul ahwa` (orang yang mengikuti hawa nafsu, red.) yang tak mengerti tentang ilmu hadits dari dasarnya. Di antaranya adalah seorang tokoh Syi’ah Rafidhah, Jalaluddin Rahmat, sebagaimana yang ditulisnya dlm kitab sesatnya Islam Aktual.
Banyak Jalan Menuju Keselamatan
Mungkin di antara kita ada yang mempertanyakan tentang firman Allah U:
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dgn seizin-Nya, & menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 16)
Ayat ini menyebutkan subulus salaam yang berarti jalan-jalan keselamatan. Ayat yang mulia ini sama sekali tak bertentangan dgn ayat & hadits yang telah kita sebutkan yang menunjukkan bahwa jalan kebenaran hanya satu. Sebab ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa di dlm Ash-Shirathul Mustaqim tersebut banyak jalan kecil yang semuanya menuju ke arah satu jalan utama yang besar yaitu jannah Allah U. Al-Imam Al-Qurthubi berkata dlm menafsirkan ayat ini: “Subulus salaam yaitu jalan-jalan keselamatan yang menuju kepada Darus Salaam yang bersih dari setiap celaan, aman dari segala yang dikhawatirkan, yaitu jannah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 6/118)
Di antara yang menunjukkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah r bersabda:
“Iman itu 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan La ilaaha illallah & yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa`i, Ibnu Majah)
Demikian pula hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah z bahwa Rasulullah r bersabda:
“Setiap persendian dari manusia wajib atasnya sedekah setiap hari tatkala terbitnya matahari. Engkau berbuat adil dlm menghukumi antara dua orang adalah sedekah, & engkau menolong orang utk menaiki kendaraannya atau engkau membantu mengangkat barangnya di atas kendaraannya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, & setiap langkah yang engkau berjalan dengannya menuju shalat adalah sedekah, & engkau menyingkirkan duri dari jalanan adalah sedekah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dan masih banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang banyaknya jalan menuju kebaikan tersebut. Oleh karena itu, Al-Imam An-Nawawi t membuat satu bab di dlm kitabnya Riyadhush Shalihin dgn judul Bab: Penjelasan tentang Banyaknya Jalan Kebaikan.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata dlm menjelaskan banyaknya jalan-jalan kebaikan: “Dan yang menunjukkan kepada apa yang kami katakan bahwa di kalangan manusia ada yang engkau dapati senang mengerjakan shalat sehingga dia memperbanyak ibadah shalatnya. Dan di antara mereka ada pula yang senang membaca Al Qur`an sehingga engkau dapati dia banyak membaca Al Qur`an. Dan di antara mereka ada yang senang berdzikir, bertasbih, bertahmid, & semisalnya, lalu engkau dapati dia banyak berdzikir; & di antara mereka ada yang dermawan yang senang menginfakkan hartanya sehingga engkau dapati dia selalu bersedekah berinfak kepada keluarganya & memberikan keleluasaan kepada mereka tanpa melampaui batas. Dan di antara mereka ada yang senang dgn ilmu & menuntut ilmu, yang mana di masa kita merupakan amalan jasmani yang paling mulia. Sebab, manusia di masa kita sekarang ini sangat membutuhkan ilmu syar’i karena banyaknya kejahilan & merebaknya orang-orang yang sok alim yang mengklaim bahwa mereka adalah ulama padahal mereka tak memiliki ilmu melainkan sangat sedikit. Maka kita sangat membutuhkan ilmu yakni ilmu yang mapan, kokoh, yang dibangun di atas Al-Kitab & As Sunnah, agar mampu membantah berbagai kekeliruan yang tersebar di berbagai kampung & negara, di mana setiap orang yang baru menghafal satu atau dua hadits dari Rasulullah r lalu berani berfatwa & bermudah-mudah dengannya, seakan-akan dia adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Imam Ahmad, Al-Imam Asy-Syafi’i, atau para imam yang lainnya rahimahumullah. Ini sangat berbahaya, jika Allah I tak merahmati umat ini dgn adanya para ulama yang mapan, memiliki ilmu & hujjah yang kuat.” (Syarah Riyadhish Shalihin, 1/444)
Namun perlu menjadi perhatian di sini bahwa jalan-jalan kebaikan tersebut tak keluar dari jalur Ash-Shirathul Mustaqim yang dijalani Rasulullah r & para shahabatnya. Dan bukan yang dimaksud di sini adalah mengamalkan agama dgn cara-cara bid’ah yang sesat. Sebab, kebenaran hanyalah apa yang dari Allah I. Maka batil-lah sebuah pernyataan yang diserukan oleh Hasan Al-Banna beserta para muqallid (orang-orang yang taqlid kepada)-nya: “Kita saling tolong menolong terhadap apa yang kita sepakati & saling memberikan udzur terhadap apa yang kita berbeda.”
Wallahul hadi ilaa sabiil ar-rasyad.

1 Surat Al-An’am ayat 153, red.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 015

nama nama imam dunia diriwayatkan oleh abdullah bin abbas bahwa rasulullah bersabda penjelasan mufradat surah al- maidah tentang penegak kebenaran kebenaran datang dari allah nama dzat allah nama dzat allah contoh dakwah selalu berusaha dan berupaya menuju kebaikan