Fatwa Ulama tentang Nasyid Islam Al Hilyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)
 
Bagi kalangan aktivis pergerakan Islam, nasyid menjadi alternatif dari “cara bermusik”. Mereka berkukuh bahwa selama tak mengandung hal-hal yang dilarang dlm syariat, hal itu diperbolehkan bahkan bisa menjadi sarana “dakwah”.  Mereka seakan lupa, nasyid mereka hampir tak ada bedanya dgn lagu kecuali pada syair. Syairnya pun -meski kadang berbahasa Arab- bahkan kerap mengandung kesyirikan & kebid’ahan.
 
Belakangan, berkembang di kalangan muslimin satu jenis hiburan yang dikenal dgn nasyid Islami. Nasyid ini dianggap sebagai alternatif pengganti lagu & musik yang didendangkan oleh para penyanyi umumnya. Masing-masing dari kelompok nasyid tersebut menggunakan bermacam variasi dlm menampilkan nasyidnya. Ada yang disertai rebana saja, yang kadang disertai dgn tepukan tangan atau alat-alat tertentu, lalu dinyanyikan oleh orang yang bersuara merdu atau secara berkelompok. Ada pula yang meluas, dgn menggunakan semua alat musik yang digunakan oleh para pelantun lagu-lagu yang tak senonoh. Bahkan ada yang tak berbeda antara lagu-lagu tersebut dgn apa yang dinamakan nasyid Islami kecuali syairnya saja. Adapun irama, musik & lantunannya, tak ada perbedaan.
Bila merunut sejarah, kita tak mengetahui dlm sejarah kaum muslimin cara berdakwah menggunakan sarana-sarana seperti ini, kecuali dari kelompok Shufiyyah (Sufi) yang dikenal gemar membuat bid’ah & menganggap baik hal-hal yang tak pernah diajarkan oleh Rasulullah n & para sahabatnya g. Sehingga sebagian ulama menghukumi mereka dgn zindiq.
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Aku meninggalkan Irak, dgn munculnya sesuatu yang disebut at-taghbir yang dibuat oleh kaum zindiq. Mereka memalingkan manusia dari Al-Qur`an.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dlm Al-Amru bil Ma’ruf hal. 36, Abu Nu’aim dlm Al-Hilyah, 9/146. Al-Albani berkata: “Sanadnya shahih. Ibnul Qayyim t menyebutkan dlm Ighatsatul Lahafan (1/229), bahwa penukilan dari Al-Imam Asy-Syafi’i t adalah mutawatir.” Lihat At-Tahrim hal. 163)
Al-Imam Ahmad t ditanya tentangnya. Beliau menjawab: “Itu adalah bid’ah.” Lalu beliau ditanya: “Bolehkah kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab: “Jangan.” (Majmu’ Fatawa, 11/569)
Abu Dawud t berkata: “Hal itu (ucapan Al-Imam Ahmad t) tak mengherankan bagiku.” (Al-Inshaf, Al-Mardawi, 8/343)
At-Taghbir adalah bait-bait syair yang mengajak bersikap zuhud terhadap dunia, dilantunkan oleh seorang penyanyi. Sebagian yang hadir kemudian memukulkan potongan ranting di atas hamparan tikar atau bantal, disesuaikan dgn lantunan lagunya itu.
Dari sini, nampaklah bahwa apa yang diistilahkan dgn nasyid Islami tak lain adalah bid’ah yang telah dimunculkan oleh kaum Shufiyah, lalu diberi polesan ‘Islami’ agar diterima oleh masyarakat yang tak mengerti hakikat bid’ah ini. Seperti halnya kebatilan-kebatilan lain yang disandarkan kepada Islam, musik Islami, pacaran Islami, demokrasi Islami, demonstrasi Islami, atau embel-embel Islami yang lainnya. Namun, alhamdulillah, syariat yang mulia ini telah mengajari kita utk tak memandang sesuatu hanya sekadar melihat namanya. Yang terpenting adalah hakikat dari apa yang terkandung di balik nama tersebut.
Maka, sebagai nasihat bagi kaum muslimin, kami sebutkan beberapa fatwa para ulama seputar hukum perkara yang disebut dgn nasyid Islami ini.
 
Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Syaikhul Islam ditanya tentang sekelompok orang yang bergabung utk melakukan berbagai dosa besar seperti pembunuhan, perampokan, pencurian, minum khamr, & yang lainnya. Kemudian salah seorang di antara Syaikh yang dikenal memiliki kebaikan & mengikuti As-Sunnah ingin mencegah mereka dari hal tersebut. Namun tak memungkinkan baginya melakukan hal itu kecuali dgn cara membuat sebuah sama’ (nasyid) utk mereka, di mana mereka berkumpul padanya dgn niat ini. Sama’ ini menggunakan rebana tanpa alat gemerincing, & nyanyian seorang penyanyi dgn syair-syair yang diperbolehkan tanpa menggunakan seruling.
Tatkala dilakukan cara ini, di antara kelompok tersebut ada yang bertaubat. Dan orang yang sebelumnya tak shalat, suka mencuri & tak berzakat, menjadi berhati-hati dari syubhat & mengerjakan kewajiban, serta menjauhi perkara yang diharamkan. Maka apakah dibolehkan nasyid yang dibuat Syaikh ini dgn cara tersebut, karena memberi dampak kemaslahatan? Dalam keadaan tak memungkinkan mendakwahi mereka kecuali dgn cara ini.
Beliau t menjawab dgn panjang lebar. Di antara yang beliau katakan:
“Sesungguhnya Syaikh tersebut ingin membuat kelompok yang hendak melakukan berbagai dosa besar itu bertaubat. Namun tak memungkinkan baginya hal itu kecuali dgn cara yang disebutkan, berupa metode yang bid’ah. Ini menunjukkan bahwa Syaikh tersebut jahil (tidak tahu) tentang metode-metode syar’i yang menyebabkan para pelaku maksiat bertaubat, atau tak mampu melakukannya. Karena sesungguhnya Rasul n, para sahabat & tabi’in, mendakwahi orang yang lebih buruk dari mereka yang disebutkan ini, dari kalangan orang-orang kafir, fasiq & pelaku maksiat, dgn cara-cara yang syar’i. Allah l telah berikan kecukupan kepada mereka dgn cara itu dari berbagai cara-cara bid’ah.
Tidak boleh dikatakan bahwa tak ada cara syar’i yang Allah l utus Nabi-Nya dengannya, yang dapat menjadikan para pelaku maksiat bertaubat. Sebab telah diketahui secara pasti & penukilan yang mutawatir bahwa orang-orang, yang tak ada yang mampu menghitung jumlahnya kecuali Allah k, telah bertaubat dari kekafiran, kefasikan, kemaksiatan. Tidak disebutkan padanya berkumpul dgn cara bid’ah sebagaimana yang dilakukan. Bahkan, orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin & Anshar serta yang mengikuti mereka dgn kebaikan –dan mereka adalah para wali Allah l yang bertakwa dari kalangan umat ini– telah bertaubat kepada Allah l dgn cara-cara yang syar’i.” (Majmu’ Fatawa, 11/624-625)
 
Fatwa Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Dalam kitabnya Tahrim Alat Ath-Tharb (hal. 181), setelah beliau menyebutkan hukum nyanyian & musik, beliau berkata:
“Masih tersisa bagiku kalimat terakhir, yang dengannya aku menutup risalah yang bermanfaat ini –insya Allah k–. Yaitu seputar apa yang mereka sebut dgn istilah nasyid Islami atau nasyid agamis.
Maka aku mengatakan: Telah jelas pada pasal ketujuh tentang syair-syair yang boleh didendangkan & yang tak diperbolehkan. Sebagaimana pula telah jelas sebelumnya tentang haramnya seluruh alat musik, kecuali duf (rebana/gendang yang terbuka bagian bawahnya) pada hari raya & pesta pernikahan, utk para wanita. Dari pasal terakhir ini, kami jelaskan bahwa tak boleh mendekatkan diri kepada Allah l kecuali dgn apa yang disyariatkan Allah k. Apalagi mendekatkan diri kepada-Nya dgn sesuatu yang diharamkan! Karena itulah, para ulama mengharamkan nyanyian kaum Shufiyyah. Dan pengingkaran mereka sangat keras terhadap orang-orang yang menganggapnya halal. Apabila seorang pembaca menghadirkan dlm benaknya prinsip-prinsip yang kokoh ini, akan jelas baginya dgn sejelas-jelasnya, bahwa tak ada perbedaan dari sisi hukum antara nyanyian kaum Shufi dgn nasyid Islami.
Bahkan pada nasyid Islami terdapat hal negatif lainnya. Yaitu terkadang nasyid tersebut didendangkan seperti lantunan nyanyian-nyanyian yang tak punya rasa malu. Dan nasyid itu dibuat dgn merujuk gaya musik ala timur ataupun ala barat, yang membuat girang para pendengarnya, membuat mereka berjoget, serta membenamkan alam sadar mereka. Sehingga, yang menjadi tujuan utamanya adalah lantunan & kegembiraan, bukan hanya sekadar nasyid. Ini adalah bentuk penyelisihan baru, yaitu tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir & orang-orang yang tak punya rasa malu. Muncul pula anak penyimpangan lainnya, yaitu tasyabbuh dgn mereka dlm hal berpaling dari Al-Qur`an & meninggalkannya. Sehingga mereka termasuk dlm keumuman sesuatu yang dikeluhkan oleh Nabi n dari kaumnya, sebagaimana yang terdapat dlm firman-Nya l:

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini suatu yang tak diacuhkan.” (Al-Furqan: 30)
Sesungguhnya aku benar-benar mengingat bahwa tatkala aku berada di Damaskus –dua tahun sebelum aku berhijrah ke sini (Amman)– sebagian pemuda muslim mulai bernyanyi dgn nasyid yang maknanya masih selamat (dari penyimpangan), dgn tujuan menyaingi nyanyian kaum Shufiyyah, seperti qashidah Al-Bushiri & yang lainnya. Nasyid tersebut terekam di kaset.
Tidak berapa lama kemudian, nasyid tersebut sudah dibarengi pukulan rebana! Mulanya, mereka menggunakannya pada acara-acara pesta pernikahan, dgn alasan bahwa menggunakan rebana pada acara tersebut boleh. Kemudian kaset tersebut menyebar & dikopi menjadi beberapa kaset salinan. Tersebarlah penggunaannya di sekian banyak rumah. Merekapun menyimaknya siang malam, baik dlm sebuah acara tertentu ataupun tidak. Dan hal tersebut menjadi hiburan mereka!
Keadaan ini tak terjadi melainkan karena hawa nafsu yang mendominasi & kebodohan terhadap tipu daya setan. Sehingga hal itu memalingkan mereka dari perhatian terhadap Al-Qur`an & mendengarnya, apalagi mempelajarinya. Al-Qur`an pun menjadi sesuatu yang ditinggalkan, sebagaimana yang disebut dlm ayat yang mulia tersebut. Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata dlm tafsirnya (3/317): “Allah k berfirman mengabarkan tentang Rasul & Nabi-Nya Muhammad n bahwa ia berkata:

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini sesuatu yang tak diacuhkan.” (Al-Furqan: 30)
Hal itu karena orang-orang musyrik tak mau mendengar Al-Qur`an & menyimaknya, sebagaimana firman Allah k:

“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al-Qur`an ini dgn sungguh-sungguh & buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)’.” (Fushshilat: 26)
Adalah jika dibacakan Al-Qur`an kepada mereka, mereka gaduh & memperbanyak percakapan pada perkara yang lain, sehingga mereka tak mendengarnya. Hal ini termasuk meninggalkannya. Tidak beriman dengannya & tak membenarkannya termasuk mengabaikan Al-Qur`an. Tidak mentadabburi & memahaminya termasuk mengabaikannya. Tidak beramal dengannya, tak melaksanakan perintahnya & tak menjauhi larangannya termasuk mengabaikannya. Berpaling darinya menuju kepada selainnya berupa syair, perkataan, nyanyian, atau yang melalaikan, atau sebuah ucapan atau satu metode yang diambil dari selainnya, termasuk mengabaikannya. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Yang Maha Pemberi Anugerah, Maha Kuasa atas segala apa yang Dia inginkan, agar menghindarkan kita dari kemurkaan-Nya, & mengantarkan kita menuju apa yang diridhai-Nya berupa menghafal kitab-Nya & memahaminya, serta melaksanakan kandungannya, baik di malam maupun siang hari, dgn cara yang dicintai-Nya & diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mulia & Maha Pemberi.” (Tahrim Alat Ath-Tharb, hal. 181-182)
Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t
Beliau t ditanya: “Saya pernah mendengar sebagian nasyid Islami & di dalamnya terdapat lantunan-lantunan yang menyerupai nyanyian. Tanpa musik, namun disertai suara yang indah. Bagaimanakah hukumnya? Sebagai pengetahuan, ada sebagian ikhwan yang tak senang dengannya & mengatakan bahwa hal itu termasuk amalan kaum Shufiyyah. Aku berharap dari Syaikh yang mulia utk memberi jawaban.”
Beliau menjawab setelah mengucapkan hamdalah & shalawat kepada Rasul n:
“Nasyid-nasyid yang ditanyakan oleh penanya ini, yang dinamakan dgn nasyid Islami, di dalamnya terdapat sebagian perkara yang terlarang. Di antaranya, nasyid tersebut dilantunkan seperti nyanyian para biduan, yang bernyanyi dgn nyanyian-nyanyian tak senonoh. Kemudian, nasyid itu dilantunkan dgn suara yang indah & merdu. Bahkan terkadang dibarengi dgn tepuk tangan, atau memukul piring & yang semisalnya.
Adapun yang disebutkan dlm pertanyaan, yaitu tak ada tepuk tangan & pukulan piring atau yang semisalnya, & si penanya berkata bahwa ia dilantunkan seperti nyanyian yang tak senonoh, dgn suara yang indah & merdu. Maka, kami berpandangan agar nasyid seperti ini tak didengarkan, karena dapat menimbulkan fitnah & menyerupai lantunan nyanyian para biduan yang tak punya rasa malu.
Tentunya, yang lebih baik dari itu ialah mendengarkan nasihat-nasihat yang bermanfaat, yang diambil dari Kitab Allah l & Sunnah Rasul-Nya n, serta perkataan para sahabat & para imam dari kalangan ahli ilmu & agama. Karena, di dalamnya sudah terdapat kecukupan & kepuasan dari yang lainnya.
Jika seseorang terbiasa tak mengambil sesuatu sebagai nasihat kecuali dgn cara tertentu, seperti lantunan nyanyian, hal itu akan menyebabkan dia tak dapat mengambil manfaat dgn nasihat-nasihat yang lain. Sebab jiwanya telah terbiasa mengambil nasihat hanya dgn cara ini. Hal ini sangat berbahaya, bahkan dapat menyebabkan seseorang bersikap zuhud (tidak butuh) terhadap nasihat Al-Qur`an yang mulia & Sunnah Nabi n, serta perkataan para ulama & imam.” (diterjemahkan dari kaset Nur ‘Alad Darb, kaset no. 258, bagian kedua)
Fatwa Al-’Allamah Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiri
“Sesungguhnya, sebagian nasyid yang banyak dilantunkan para pelajar di berbagai acara & tempat pada musim panas, yang mereka namakan dgn nasyid-nasyid Islami, bukanlah dari Islam. Sebab, hal itu telah dicampuri dgn nyanyian, melodi, & membuat girang yang membangkitkan (gairah) para pelantun nasyid & pendengarnya. Juga mendorong mereka utk bergoyang serta memalingkan mereka dari dzikrullah, bacaan Al-Qur`an, mentadabburi ayat-ayatnya, & mengingat apa-apa yang disebut di dalamnya berupa janji, ancaman, berita para nabi & umat-umat mereka, serta hal-hal lain yang bermanfaat bagi orang yang mentadabburinya dgn sebenar-benar tadabbur, mengamalkan kandungannya, & menjauhi larangan-larangan yang disebutkan di dalamnya, dgn mengharap wajah Allah l, dari ilmu & amalannya.” (Iqamatud Dalil ‘Alal Man’i Minal Anasyid Al-Mulahhanah wat Tamtsil hal. 6, dari situs sahab.net)
“Barangsiapa mengqiyaskan nasyid-nasyid yang dilantunkan dgn lantunan nyanyian, dgn syair-syair para sahabat g tatkala mereka membangun Masjid Nabawi, menggali parit Khandaq, atau mengqiyaskan dgn syair perjalanan yang biasa diucapkan para sahabat utk memberi semangat kepada untanya di waktu safar, maka ini adalah qiyas yang batil. Sebab para sahabat g tak pernah bernyanyi dgn syair-syair tersebut & menggunakan lantunan-lantunan yang membuat girang, yang membangkitkan para pelantun nasyid & pendengarnya, seperti yang dilakukan oleh sebagian pelajar di berbagai acara & tempat pada musim panas. Namun para sahabat g hanya mencukupkan melantunkan syair-syair tersebut dgn mengangkat suara. Tidak disebutkan bahwa mereka berkumpul utk melantunkan nasyid dgn satu suara, seperti yang dilakukan para pelajar di zaman kita.
Kebaikan yang hakiki adalah mengikuti apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah n & para sahabatnya g. Kejahatan yang sesungguhnya adalah dgn menyelisihi mereka, lalu mengambil perkara-perkara baru yang bukan dari bimbingan mereka, serta tak dikenal pada zaman mereka.
Semua itu berasal dari bid’ah kaum Shufiyyah, yang menjadikan agama mereka sebagai permainan serta hal yang melalaikan. Telah diriwayatkan tentang bahwa mereka berkumpul utk melantunkan nasyid dgn irama secara berlebih-lebihan serta melampaui batas dlm menjunjung Nabi n. Mereka berkumpul utk melakukan hal itu & menamakannya dgn dzikir, padahal pada hakikatnya merupakan olok-olokan terhadap Allah k & dzikir-Nya. Dan siapapun yang menjadikan kaum Shufi yang sesat sebagai pendahulu & panutan, maka itu adalah seburuk-buruk teladan yang telah mereka pilih utk diri-diri mereka.” (ibid, hal. 7-8)
Beliau juga berkata: “Sesungguhnya, penamaan nasyid-nasyid yang dilantunkan dgn nyanyian sebagai nasyid Islami, menyebabkan timbulnya perkara-perkara jelek & berbahaya. Di antaranya:
1. Menjadikan bid’ah ini sebagai bagian ajaran Islam & penyempurnanya. Ini mengandung unsur penambahan terhadap syariat Islam, sekaligus pernyataan bahwa syariat Islam belum sempurna di zaman Nabi n. Hal ini bertentangan dgn firman Allah k:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan utk kamu agamamu.” (Al-Ma`idah: 3)
Ayat yang mulia ini merupakan nash yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam bagi umat ini. Sehingga, pernyataan bahwa nasyid yang berlirik (lagu) tersebut sebagai Islami, mengandung unsur penentangan terhadap nash ini, dgn menyandarkan nasyid-nasyid yang bukan dari ajaran Islam kepada Islam & menjadikannya sebagai bagian darinya.
2. Menisbahkan kekurangan kepada Rasul n dlm menyampaikan & menjelaskan kepada umatnya. Di mana beliau tak menganjurkan mereka melantunkan nasyid secara berjamaah dgn lirik lagu. Tidak pula beliau n mengabarkan kepada mereka bahwa itu adalah nasyid Islami.
3. Menisbahkan kepada Rasul n & para sahabatnya g bahwa mereka telah menelantarkan salah satu perkara Islam & tak mengamalkannya.
4. Menganggap baik bid’ah nasyid yang dilantunkan dgn irama nyanyian, & memasukkannya sebagai perkara Islam. Telah disebutkan oleh Asy-Syathibi dlm Al-I’tisham apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Habib dari Ibnul Majisyun, dia berkata: “Aku mendengar Malik (bin Anas) berkata: ‘Barangsiapa berbuat bid’ah di dlm Islam & ia menganggapnya baik, maka sungguh dia telah menganggap bahwa Muhammad n telah mengkhianati risalah. Sebab Allah  l berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan utk kamu agamamu.” (Al-Ma`idah: 3)
Maka, apa yang pada masa itu tak menjadi agama, maka pada hari inipun tak menjadi agama.” (ibid, hal. 11)
Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menyebutkan dlm kitabnya Al-Khuthab Al-Minbariyyah (3/184-185):
“Di antara yang perlu menjadi perhatian adalah apa yang banyak beredar di antara para pemuda yang semangat menjalankan agama, berupa kaset-kaset yang terekam padanya nasyid-nasyid, dgn suara berjamaah, yang mereka namakan nasyid Islami. Ini adalah salah satu jenis nyanyian. Terkadang disertai suara yang menimbulkan fitnah, & dijual di beberapa toko/studio bersama dgn kaset rekaman Al-Qur`an Al-Karim serta ceramah-ceramah agama.
Penamaan nasyid-nasyid ini dgn nasyid Islami adalah pemberian nama yang keliru. Sebab Islam tak pernah mensyariatkan nasyid kepada kita. Islam hanya mensyariatkan kepada kita berdzikir kepada Allah k, membaca Al-Qur`an, & mempelajari ilmu yang bermanfaat. Adapun nasyid-nasyid tersebut, hal itu berasal dari agama kelompok bid’ah Shufiyyah, yang menjadikan agama mereka sebagai permainan & hal yang melalaikan. Menjadikan nasyid sebagai agama adalah menyerupai kaum Nasrani, yang menjadikan bernyanyi secara berjamaah & lantunan yang membuat orang bergoyang sebagai agama mereka.
Tindakan yang wajib adalah berhati-hati dari nasyid-nasyid ini, & melarang penjualan serta peredarannya, utk mencegah  akibat buruk yang ditimbulkannya, berupa fitnah & semangat yang tak terkontrol, serta mengadu domba di kalangan kaum muslimin.” (As`ilah ‘an Al-Manahij Al-Jadidah, Jamal bin Furaihan Al-Haritsi, hal. 20-21)
Perbedaan ‘Nasyid Islami’ dgn Dendangan Syair para Sahabat Nabi n
q Mereka mendendangkan syair-syair mereka pada waktu tertentu, seperti ketika safar (yang disebut dgn hida’), dgn tujuan mengusir rasa kantuk. Atau tatkala melakukan satu pekerjaan yang cukup berat, seperti membangun rumah, parit, & yang semisalnya (yang disebut rajz). Sedangkan nasyid Islami menjadi hiburan di setiap waktu, dgn alasan sebagai alternatif pengganti lagu-lagu cabul & tak punya rasa malu. Sa’id bin Al-Musayyab t berkata:
إِنِّي لَأَبْغَضُ الْغِنَاءَ وَأُحِبُّ الرَّجْزَ
“Sesungguhnya aku membenci nyanyian & menyukai rajz.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dlm Al-Mushannaf, 11/19743. Dishahihkan oleh Al-Albani dlm At-Tahrim hal. 279)
q Syair-syair yang mereka lantunkan tersebut diistilahkan dgn nasyid kaum Arab, bukan nasyid Islami.
q Tujuan mereka melantunkan bait-bait syair tersebut adalah utk meringankan beban yang sedang mereka alami, dari keletihan di waktu safar atau bekerja keras. Sedangkan nasyid Islami dibuat dgn tujuan sebagai ‘sarana dakwah’. Agar orang yang mendengarnya menjadi sadar dari perbuatan maksiat yang dia lakukan, sebagaimana fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t yang telah lalu. Atau dgn alasan sebagai alternatif pengganti lagu-lagu cabul.
q Lantunan syair mereka tak mendorong utk bergoyang & melenggak-lenggokkan badan, berbeda dgn yang disebut nasyid Islami.
q Lantunan syair-syair mereka tak diiringi alat musik. Sedangkan apa yang disebut nasyid Islami, mayoritasnya disertai dgn alat musik.
q Lantunan syair mereka tak disertai dgn notasi (do-re-mi) seperti halnya nyanyian. Berbeda dgn yang disebut nasyid Islami yang menggunakan notasi nyanyian, dgn lirik yang sama seperti nyanyian secara umum. Bahkan di antara nasyid tersebut ada yang tak memiliki perbedaan sama sekali dgn lagu-lagu cabul, kecuali gubahannya saja. Adapun lirik & lantunannya sama persis, tak berbeda.
q Mereka melantunkan syair-syair tersebut secara individu, bukan berjamaah. Tidak seperti yang mereka namakan nasyid Islami. (Lihat kitabal Bayan li Akhtha` Ba’dhil Kuttab, Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 341, kitab At-Tahrim, Al-Albani hal. 101)
Semoga Allah k senantiasa membimbing kita utk mengenal al-haq & mengikutinya, & memperlihatkan kepada kita kebatilan agar kita dapat menjauhkan diri darinya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 040

nasyid tentang akhlak rasulullah penyanyi nasyid mulia dalil ulama tentang akhlak penyimpangan para ulama terdahulu tentang huku islam syair ulama n sunan syair berdzikir kepada allah lagu islami minal soto ya syair akhlak mulia syair yg dinyanyikan membangun masjid nabi fatawa+ulama+tentang+agama+islam